Baginya, aksi ini bukan hanya menolak tambang, tetapi juga menyatukan dua lembaga adat, Ulujadi dan Kinovaro, demi penyelamatan Gunung Kinovaro dan pegunungan sekitarnya yang diibaratkan "paru-paru" wilayah Palu dan Sigi.
"Hari ini kami meneteskan air mata. Kami tak pernah anarkis, tak pernah melawan pemerintah. Kami ikuti semua jalur, tapi yang kami temukan hanya kekecewaan. Hari ini luka kami yang sudah delapan bulan terobati dengan hadirnya Bapak Gubernur," ucap Faizal, terbata.
Tokoh adat Ulujadi, Astam, turut menyuarakan kegusaran. Ia menyoroti izin-izin tambang di Kalora dan Tipo yang diterbitkan tanpa prosedur jelas dan tanpa pelibatan masyarakat. Rapat koordinasi lintas OPD sejak 2004 pun tak pernah tuntas.
"Kami tidak anti pembangunan, tapi kami menolak pertambangan yang merusak alam, menghilangkan sumber air, dan menimbulkan konflik sosial," tegas Astam.
Tak hanya soal tambang, persoalan tapal batas antara Kota Palu dan Kabupaten Sigi yang belum tuntas sejak 2012 turut mengemuka dari Kelurahan Sigi.
"Patoknya sudah kami cabut dan simpan di kantor kelurahan. Kami mohon Gubernur memfasilitasi ini karena sudah terlalu lama dibiarkan menggantung," keluh perwakilan warga. Dari Tipo, warga juga memprotes tumpang tindih penguasaan tanah akibat SKPT ganda.
"Kami minta kejelasan status wilayah kami. Jangan sampai masyarakat jadi korban karena permainan administrasi yang tidak adil," seru perwakilan warga Tipo.
Di pengujung pernyataannya, Gubernur Anwar Hafid menyerukan agar masyarakat tetap tenang dan percaya bahwa negara hadir di pihak rakyat.
Baca Juga: 4 Izin Tambang Nikel Dicabut, Prabowo Selamatkan Raja Ampat dari Jurang Eksploitasi
"Saya berharap seluruh warga masyarakat tenang, itu urusan saya dengan para pemegang IUP. Kata-kata saya pegang baik-baik. Insyaallah saya tidak khianat. Saya ada di pihak rakyat, karena saya dipilih oleh rakyat," ujarnya, suaranya semakin bergetar, memancarkan ketulusan.
"Sekali lagi mau saya tegaskan, keputusan ini bukan karena saya takut demo, keputusan ini saya ambil untuk melindungi Kota Palu ini dari segala akibat pertambangan. Nanti urusan saya mencari solusinya, yang penting kita aman di daerah ini. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!" Sorak takbir kembali menggema, menyelimuti pagi di Tipo dengan harapan baru yang membuncah.