Sulawesitoday - Festival Teluk Tomini (FTT) 2025 belum dimulai, tapi sudah menuai kontroversi. Puluhan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) kuliner Parigi Moutong angkat suara. Mereka memprotes kebijakan penempatan lokasi berjualan. Alasannya sederhana. Pembagian tenda dinilai tidak adil.
Syarif, salah satu pedagang lokal, tak menahan kekecewaan. "Saya rasa tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan ekonomi daerah," katanya di Parigi, Kamis kemarin. "Tapi kok malah membeda-bedakan?"
Masalahnya bukan cuma soal tenda. Ini soal keadilan. Sebagian pedagang dapat tenda kerucut di area utama—lokasi strategis dengan lalu lintas pengunjung tinggi. Sementara pedagang lainnya? Mereka dibuang ke belakang. Dapat tenda terowongan. Lokasinya jauh dari keramaian.
Dua Zona, Dua Nasib Berbeda?
Pembagian dua zona tenda ini memicu kesenjangan nyata. Pasar Kuliner Nusantara dengan tenda kerucut jadi primadona. Sedangkan Pasar Jajanan Rakyat dengan tenda terowongan terkesan dipinggirkan. Pedagang lokal merasa diperlakukan sebagai anak tiri.
"Bukan hanya saya yang mengeluh," tegas Syarif. "Banyak pelaku UMKM lain juga kecewa. Penilaian apa yang panitia pakai sampai membuat pembagian timpang seperti ini?"
Pertanyaan itu menggantung. Tidak ada penjelasan resmi dari panitia. Tidak ada kriteria jelas. Yang ada hanya kecurigaan: pedagang dari luar daerah malah dapat tempat bagus. Pedagang lokal dapat sisa.
Kekecewaan makin dalam. Beberapa pedagang luar daerah bahkan membuat tenda sendiri. Mereka mencari lokasi di jalur masuk arena—tempat paling strategis. Melihat itu, pedagang lokal ikut-ikutan. Mereka bawa tenda pribadi. Cari lokasi sendiri.
"Okelah, kami terima saja," ujar Syarif dengan nada pasrah. "Tapi aturlah lokasi yang sesuai. Baru melihat tempat saja kami sudah patah hati. Yang dari luar daerah bisa, masa kami tidak?"
Pemda: "Kami Hanya Sediakan Tenda"
Menanggapi protes, Kepala Bidang Pemberdayaan UMKM Dinas Koperasi dan UKM Parigi Moutong, Sulastri, buka suara. Ia menjelaskan, pihaknya hanya menyediakan dua jenis pasar sesuai kebutuhan festival. Urusan lokasi? Bukan wewenang mereka.
"Kami hanya menyiapkan tendanya," terang Sulastri. "Untuk lokasi pemasangan, kami menyesuaikan denah dari Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Parimo. Di mana mereka minta tenda dibangun, kami ikuti."
Ia juga membantah tuduhan bahwa pedagang luar daerah mendominasi Pasar Kuliner Nusantara. "Pedagang dari luar daerah memang ada," akunya. "Tapi mereka tidak mendaftar atau melapor ke kami. Jadi saya tidak tahu detail mereka."
Sulastri menambahkan, Dinas Koperasi telah menyiapkan 35 tenda gratis. Tenda itu khusus untuk UMKM Parigi Tengah sebagai tuan rumah. Namun jumlah pelaku UMKM ternyata lebih banyak. Banyak yang belum terakomodasi. Solusinya masih dicari.