Sulawesitoday - Emas hijau itu bernama Durian. Di Parigi Moutong, kualitasnya sudah tidak perlu diperdebatkan. Rasanya legit. Aromanya kuat. Teksturnya juara. Namun, rasa saja ternyata tidak cukup untuk menaklukkan pasar dunia.
Ada ganjalan besar: standar mutu dan akses pasar. Selama ini, tantangan klasiknya adalah bagaimana menjaga kualitas setelah buah jatuh dari pohon. Pasca-panen. Itulah kuncinya.
Pemerintah Daerah (Pemda) Parigi Moutong sadar betul akan hal itu. Maka, hilirisasi bukan lagi sekadar wacana. Harus konkret. Langkah nyata itu terlihat di Desa Masari, Kecamatan Parigi Selatan, Jumat kemarin.
Sebuah packing house resmi berdiri. Milik PT Pondok Durian Sulawesi. Fasilitas ini bukan sekadar gudang biasa. Ini adalah pusat standarisasi. Di sana ada proses sortasi. Ada grading. Ada pengemasan modern.
"Tantangan kita selama ini adalah bagaimana meningkatkan kualitas pasca-panen agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional," ujar Wakil Bupati Parigi Moutong, Abdul Sahid.
Publik kini punya harapan baru. Dengan adanya fasilitas pengemasan yang modern, durian lokal tidak lagi dijual apa adanya. Standarnya sudah standar ekspor. Rantai pasok menjadi lebih kuat. Daya saing melonjak.
Abdul Sahid menegaskan pentingnya perubahan pola pikir ini. "Dengan proses sortasi dan pengemasan yang baik, durian kita bisa menembus pasar ekspor secara berkelanjutan," tambahnya.
Pemda tampaknya memang sedang tancap gas. Sektor pertanian berbasis agribisnis jadi fokus utama. Iklim investasi dibuat kondusif. Perizinan dipermudah. Infrastruktur penunjang ekonomi terus digenjot.
Kuncinya satu: kolaborasi. Pemerintah tidak bisa jalan sendiri. Pelaku usaha dan masyarakat harus bergandengan tangan. Inilah jalan menuju ekonomi yang inklusif. Dari kebun di Parigi, untuk meja makan di mancanegara.
Strategi Bappelitbangda Parigi Moutong Jadikan Durian Montong Komoditas Unggulan