Sulawesitoday - Aula Bappelitbangda itu tidak sedang menggelar seremoni biasa. Riuhnya bukan sekadar riuh birokrasi. Hari itu, Pemerintah Daerah (Pemda) Parigi Moutong sedang mengunci target besar untuk tahun 2027.
Targetnya cuma tiga. Tapi berat: Hapus kemiskinan, babat stunting, dan perkuat Posyandu Plus.
Bukan Sekadar Rutinitas
Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Aswini Dimple, hadir mewakili Bupati. Pesannya terang benderang. Dia tidak ingin Forum Lintas Perangkat Daerah ini hanya jadi ajang kumpul-kumpul setor muka.
"Forum ini bukan sekadar rutinitas birokrasi," tegas Aswini. Menurutnya, ini adalah langkah nyata. Sebuah jawaban untuk tiga tantangan yang saling berkelindan: kemiskinan ekstrem, stunting, dan layanan dasar.
Memang, infrastruktur tetap dibangun. Ekonomi tetap dipacu. Tapi, tahun 2027 nanti, semua energi akan dicurahkan ke tiga isu sentral tadi.
Membedah Kemiskinan dan Stunting
Soal kemiskinan, strateginya tidak boleh lagi meraba-raba. Harus presisi. Berbasis data. Pemberdayaan ekonomi harus dikawinkan dengan jaminan sosial. Tujuannya satu: masyarakat keluar dari zona kemiskinan secara berkelanjutan. Tidak boleh kembali lagi.
Lalu soal stunting. Ini bukan sekadar urusan timbangan badan anak di desa-desa. Ini mandat nasional.
"Stunting bukan hanya masalah kesehatan," kata Aswini. Cakupannya luas. Ada urusan sanitasi di sana. Ada air bersih. Ada pola asuh. Hingga ketahanan pangan. Intervensinya harus sampai ke pintu-pintu rumah tangga.
Senjata Bernama Posyandu Plus
Nah, inilah jagoannya: Posyandu Plus.
Ke depan, Posyandu di Parigi Moutong harus naik kelas. Transformasi. Tidak boleh lagi hanya urusan imunisasi atau timbang bayi. Posyandu harus jadi pusat integrasi layanan sosial dasar.
Ada enam Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang dititipkan di sana: