Sulawesitoday - Arfandi tidak ingin sekadar duduk di balik meja. Kepala BPJS Ketenagakerjaan Parigi Moutong itu tahu persis: literasi jaminan sosial tidak bisa hanya lewat baliho kaku. Harus masuk ke jantung komunitas. Ke masjid. Ke pura. Ke gereja. Ke tempat orang-orang bersujud.
Senin lalu, gerakan itu dimulai. Namanya mentereng: Gerakan Sadar Jaminan Sosial. Sasarannya bukan manajer berdasi, melainkan mereka yang sering terlupakan. Marbot masjid, penggali kubur, hingga petugas kebersihan di lingkungan RT/RW.
"Mesjid dan DKM itu ekosistem strategis. Di sana pusat orang berkumpul," ujar Arfandi dengan nada yakin.
Masalahnya klasik. Banyak pekerja informal di Parigi Moutong yang semangatnya hanya hangat-hangat tahi ayam. Daftar bulan ini, bulan depan iurannya macet. Begitu ada musibah, mereka gigit jari karena manfaat tidak bisa cair. Padahal, risiko kerja tidak kenal kalender. Ia bisa datang saat seseorang sedang menyapu halaman masjid atau membetulkan genteng gereja.
Kini, ada amunisi baru yang dibawa Arfandi: Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Isinya progresif. Iuran jaminan sosial kini bisa dikategorikan sebagai infaq dan sadaqah. Ini terobosan. Artinya, pengurus masjid tidak perlu ragu lagi mengalokasikan dana kotak amal untuk mendaftarkan marbotnya.
Sodakoh tidak harus selalu berupa nasi bungkus. Jaminan masa depan juga ibadah.
Apalagi, ada "promo" besar-besaran dari negara. Mulai April 2026 hingga Desember 2026 nanti, iuran dipangkas separuh harga. Diskon 50 persen. Cukup bayar Rp 8.400 saja per bulan—biasanya Rp 16.800—seorang pekerja sudah tenang dengan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM).
"Risiko kecelakaan kerja bisa terjadi kapan dan di mana saja. Dengan program ini, ada beasiswa juga sampai sarjana," tambahnya.
Bagi yang punya uang lebih, ada opsi Jaminan Hari Tua (JHT). Tambah Rp 20.000 sebulan. Angka ini bukan hilang, tapi jadi tabungan. Kabarnya, nilai pengembangannya pun lumayan, sering kali di atas bunga deposito bank-bank plat merah.
Tentu, tantangan dilapangan masih besar. Mengubah pola pikir dari "nanti saja" menjadi "siaga sekarang" perlu energi ekstra. Namun, dengan masuk ke rumah ibadah, BPJS Ketenagakerjaan sedang mencoba menyentuh sisi kemanusiaan yang paling dalam.
Negara ingin hadir di saku baju para penjaga rumah Tuhan. Lewat potongan iuran dan fatwa ulama, Parigi Moutong sedang merajut jaring pengaman yang lebih manusiawi. Agar mereka yang mengabdi pada umat, juga dijamin oleh negara.
DPRD Parigi Moutong Dorong JKM BPJS Ketenagakerjaan bagi Pekerja Rentan