pemerintah

Dilema BLUD RSUD, Mengapa Rumah Sakit Tak Boleh Hanya Kejar Target PAD Setelah Sebelumnya Disorot DPRD Parigi Moutong?

Sabtu, 20 Juni 2026 | 14:57 WIB
RSUD berstatus BLUD tidak boleh sekadar menjadi mesin PAD. Keberhasilan daerah sejati justru terlihat saat angka orang sakit bisa ditekan.

Fokus pembangunan manusia harus dikembalikan pada jalur yang benar. Keberhasilan seorang kepala daerah seharusnya diukur dari seberapa banyak ranjang perawatan yang kosong karena warganya hidup bugar.

Kita perlu mengubah standar penilaian kinerja di sektor publik. Keuangan yang sehat dari sebuah lembaga medis plat merah wajib diletakkan dalam koridor efisiensi anggaran, bukan dari hasil memeras keringat orang miskin.

Kemenkes dan BPJS Kesehatan Justru Mendorong Pencegahan Penyakit

Arah kebijakan nasional sebenarnya sudah sangat jelas dan tegas. Pihak Kemenkes terus menggaungkan bahwa fokus utama pembangunan medis nasional wajib bergeser dari yang tadinya mengobati orang sakit menjadi menjaga warga agar tidak jatuh sakit.

Langkah strategis ini mutlak diperlukan demi keberlanjutan bangsa. Melalui agenda Transformasi Kesehatan, pemerintah pusat mendorong seluruh daerah untuk memperkuat benteng pertahanan medis di tingkat paling dasar seperti Puskesmas dan Posyandu.

Komitmen ini bukan sekadar slogan di atas kertas belaka. Upaya Promotif berupa edukasi massal dan gerakan hidup bersih kini menjadi pilar utama dalam menciptakan generasi masa depan yang tangguh serta bebas dari ancaman penyakit kronis.

Langkah deteksi dini juga terus digencarkan secara masif. Melalui tindakan Preventif yang terstruktur, potensi penyakit mematikan seperti kanker dan diabetes dapat diketahui lebih cepat sehingga biaya penanganannya menjadi jauh lebih murah.

Sinergi instansi pemegang anggaran juga berjalan selaras dengan visi ini. Pihak BPJS Kesehatan kini turut menjamin pembiayaan berbagai program pencegahan, mulai dari imunisasi dasar, pemeriksaan tekanan darah berkala, hingga skrining riwayat kesehatan bagi seluruh peserta.

Kebijakan pusat ini sering kali membentur tembok ego sektoral di tingkat daerah. Pemerintah kabupaten dan kota kerap kali abai dan lebih memilih menyalurkan dana untuk membangun gedung perawatan megah ketimbang membiayai program penyuluhan di desa-desa.

Sinkronisasi aturan hukum dari atas ke bawah harus dikawal dengan ketat. Jangan sampai niat baik untuk menyehatkan bangsa terhambat oleh ambisi sempit oknum daerah yang hanya mementingkan angka di atas kertas laporan keuangan.

Ukuran Keberhasilan yang Lebih Tepat

Indikator kemajuan sektor kesehatan wajib dirumuskan ulang secara menyeluruh. Pemerintah harus mulai memakai kacamata Paradigma Sehat yang menempatkan kesejahteraan fisik dan mental masyarakat sebagai muara akhir dari setiap kebijakan yang dilahirkan.

Kualitas hidup manusia tidak bisa dinilai dengan satuan rupiah. Penurunan angka kesakitan, hilangnya kasus kematian ibu melahirkan, serta bebasnya balita dari ancaman tengkes atau stunting adalah bukti otentik dari keberhasilan pembangunan yang sejati.

Faktor mendasar lainnya juga tidak boleh luput dari perhatian. Program Peningkatan Gizi anak dan pemenuhan pangan sehat bagi keluarga miskin harus diposisikan sebagai agenda utama yang mendahului urusan pengadaan alat-alat medis canggih di rumah sakit.

Penyusunan anggaran daerah menjadi kunci utama dari perubahan ini. Alokasi Anggaran Kesehatan daerah yang bersumber dari APBD sepatutnya dialihkan untuk mendanai kegiatan kader-kader kesehatan yang bergerak langsung di baris depan masyarakat.

Masyarakat yang cerdas akan melahirkan daerah yang kuat dan mandiri. Ketika warga memahami cara menjaga kebersihan diri dan lingkungan, ketergantungan pada obat-obatan kimia di ruang perawatan dengan sendirinya akan berkurang.

Uang daerah sebaiknya dipakai untuk membangun fasilitas olahraga dan ruang terbuka hijau. Sarana publik yang memadai akan merangsang masyarakat untuk aktif bergerak dan menjauhkan mereka dari berbagai risiko penyakit tidak menular.

Halaman:

Tags

Terkini