• Kamis, 16 Juli 2026

Kartu Merah Shin Tae-yong: Antara Emosi dan Strategi Menunda Penalti

.
Aswadin, Sulawesi Today
- Rabu, 15 Mei 2024 | 13:17 WIB
Foto: Pelatih Timnas Indonesia saat berfoto bersama Pelatih Guinea. (Aswadin/tangkap layar instagram)
Foto: Pelatih Timnas Indonesia saat berfoto bersama Pelatih Guinea. (Aswadin/tangkap layar instagram)








Kartu Merah Shin Tae-yong: Antara Emosi dan Strategi Menunda Penalti


Sulawesitoday - Mantan komentator Korea beberkan analisis: ada perhitungan di balik kemarahan STY keputusan wasit kontroversial dan intimidasi suporter Jadi, pemicu Shin Tae-yong. Itu adalah keputusan terburuk dalam 45 tahun bermain sepak bola.


Momen kartu merah yang diterima Shin Tae-yong saat Timnas Indonesia U-23 melawan Guinea U-23 di play-off Olimpiade Paris 2024 masih menyisakan perdebatan. Mantan komentator Korea Selatan, Han Jun, memberikan analisisnya terkait kejadian tersebut.


Menurut Han Jun, kemarahan Shin Tae-yong di lapangan bukan tanpa alasan.


Situasi di lapangan yang tidak ideal, seperti stadion yang kecil dan minim waktu untuk memberikan instruksi taktis, mendorong STY untuk melakukan strategi menunda penalti.


"Daripada memberikan instruksi taktis, sepertinya ada perhitungan bahwa para pemain harus menghindari kebobolan penalti ini sebanyak mungkin. Untuk melakukan itu, Anda harus menunda permainan sedikit untuk mematahkan ritme dan memberi tahu para pemain.


"Kami berada dalam situasi yang sangat sulit. Ini adalah situasi yang membuat frustrasi seperti 'Aku sangat marah, ayo kita selesaikan,'" kata Han Jun dikutip dari Wikitree.


Namun, strategi ini berujung pada kartu merah bagi Shin Tae-yong karena dianggap sebagai tindakan tidak sportif oleh wasit.


Suasana di lapangan yang memanas akibat intimidasi terhadap suporter Indonesia dan pemberitaan media yang tidak berimbang juga turut memperparah situasi.


Di sisi lain, Shin Tae-yong mengungkapkan kekecewaannya terhadap dua keputusan wasit yang dianggap kontroversial, salah satunya adalah pemberian penalti kepada Guinea U-23. Ia bahkan menyebutnya sebagai keputusan terburuk.









Editor: Aswadin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Terkini