Sulawesitoday - Mulai 16 Maret 2026 — besok lusa — harga ponsel Anda bakal naik. Bukan karena penjualnya serakah. Bukan karena dolar naik. Tapi karena ada benda mungil bernama chip memori yang tiba-tiba langka di seluruh penjuru bumi.
Chip itu tidak lebih besar dari kuku jari kelingking saya. Tapi tanpanya, ponsel canggih seharga lima juta pun tidak lebih berguna dari batu bata persegi.
Oppo dan OnePlus sudah angkat tangan. Mereka tidak bisa lagi menanggung sendiri.
Dalam pengumuman resmi di toko online-nya, Oppo berbicara dengan bahasa korporat yang rapi — "evaluasi yang cermat", "komponen utama", "pengalaman pengguna yang optimal". Tapi intinya sederhana: biaya produksi naik, harga jual ikut naik.
Yang kena? Seri A dan seri K — ponsel-ponsel yang biasa dibeli oleh orang-orang biasa. Kelas pekerja. Pelajar. Ibu rumah tangga yang menabung berbulan-bulan.
Seri Find? Seri Reno? Tablet Oppo Pad? Aman. Tidak naik. Setidaknya untuk saat ini. Lucu juga — yang kaya tetap tenang, yang pas-pasan yang harus cari tambahan.
Pertanyaannya: kenapa chip memori bisa langka?
Ini bukan cerita baru. Dunia pernah merasakannya saat pandemi — ketika pabrik tutup, kapal tidak berlayar, dan kontainer menumpuk di pelabuhan seperti tumpukan kaleng sarden raksasa.
Kali ini ceritanya berbeda tapi rasanya sama. Permintaan meledak. Kapasitas produksi belum bisa ikut. Dan di tengah semua itu, geopolitik ikut bermain — siapa boleh menjual chip ke siapa, dari negara mana, dengan teknologi apa.
Chip itu kecil. Tapi konflik di baliknya sungguh besar.
Ada angka yang membuat saya bergidik.
Pasar smartphone global diprediksi bisa menyusut hingga 13 persen tahun ini. Tiga belas persen! Itu bahkan lebih dalam dari masa puncak pandemi Covid-19 — saat orang tidak bisa keluar rumah, toko tutup, dan perekonomian dunia seperti orang yang tiba-tiba pingsan.
Dan siapa yang paling menderita? Bukan segmen premium. Bukan ponsel flagship seharga sepuluh juta ke atas yang dibeli orang-orang berdasi di pusat kota.
Yang paling menderita adalah segmen murah. Ponsel tiga jutaan. Dua jutaan. Yang biasa dibeli oleh guru honorer di Sulawesi Tengah. Oleh mahasiswa kost di Surabaya. Oleh tukang ojek yang ingin bisa menerima pesanan online.