Sulawesitoday - Namanya kecil. Badannya lebih kecil lagi.
Tapi jangan remehkan serangga dari Tanzania itu. Ia terbang jauh sekali — melintasi samudra, melewati benua — untuk mendarat di kebun-kebun sawit Indonesia. Tugasnya sederhana: menyerbuk. Tapi dampaknya? Bisa mengubah peta energi nasional.
Itulah yang tengah disiapkan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia — GAPKI. Mereka tidak sedang bercanda. Tidak sedang bermimpi di siang bolong. Mereka sudah menghitung. Sudah mengukur. Dan angkanya menggiurkan.
10 Sampai 15 Persen. Bukan Angka Sembarangan
Eddy Martono, Ketua Umum GAPKI, bicara lugas di hadapan wartawan di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (11/3/2026). Tidak berpanjang kata. Tidak berputar-putar. Langsung ke intinya.
"Harusnya bisa naik sampai kira-kira sekitar 10-15 persen kenaikan produksinya," katanya.
Caranya? Dengan memasukkan serangga penyerbuk dari Tanzania ke dalam ekosistem perkebunan sawit Indonesia. Serangga ini membantu proses pembentukan buah menjadi lebih sempurna. Buah lebih sempurna berarti produksi lebih tinggi. Logika yang sederhana. Tapi eksekusinya yang tidak sederhana.
Program ini bukan lahir tiba-tiba. Bukan pula sekadar ide di atas kertas. GAPKI sudah menjalankannya. Sudah memulai proses introduksi. Dan kini sedang dalam pembicaraan dengan Zambia untuk sumber genetik berikutnya.
"Kita itu sudah berjalan program peningkatan produktivitas, dengan melakukan introduksi serangga penyerbuk. Pertama ini dari Tanzania, dan juga sumber daya genetik. Sekarang yang sedang kita berjalan adalah dengan Zambia, ini sedang proses."
— Eddy Martono, Ketua Umum GAPKI
Dua Kali Lipat. Itu Bukan Mimpi
Kalau serangga penyerbuk saja sudah bisa mendongkrak 10-15 persen, bayangkan bila sumber daya genetik baru ikut bermain.
Eddy tidak ragu menyebut angkanya. Yang tadinya hanya 24 ton Tandan Buah Segar (TBS) per hektare per tahun — angka itu bisa berlipat ganda. Dua kali lipat. Bukan setengah-setengah.
"Dengan sumber daya genetik baru, harusnya bisa meningkat lebih tinggi lagi. Karena kenapa? Yang tadinya mungkin hanya 24 ton TBS per hektare per tahun, bisa meningkat 2 kali lipat," ujarnya.