Eddy punya jawaban. Satu-satunya jalan keluar adalah meningkatkan produksi. Titik.
"Jalan satu-satunya adalah kita harus meningkatkan produksi. Supaya ekspor tetap jalan, tetapi untuk energi juga bisa jalan. Tidak saling membunuh," tegasnya.
Dan satu hal lagi yang penting — sangat penting — yang sering luput dari perhatian publik: program biodiesel selama ini tidak menggunakan sepeser pun uang APBN. Tidak ada. Semua dana berasal dari pungutan ekspor sawit itu sendiri.
"Sekarang biodiesel praktis tidak ada dana satu rupiah pun dari APBN. Dana semua adalah dari dana pungutan ekspor," jelas Eddy.
Kalau ekspor terganggu, dari mana uang untuk biodiesel? Makanya produksi harus naik. Makanya serangga Tanzania itu begitu penting.
Makhluk Kecil yang Menanggung Beban Besar
Serangga itu tidak tahu apa yang sedang dipikulnya. Ia tidak tahu bahwa ribuan petani sawit berharap padanya. Bahwa target swasembada energi Indonesia sebagian bergantung pada sayap-sayap kecilnya.
Ia hanya terbang. Hinggap. Menyerbuk. Lalu terbang lagi.
Tapi justru itulah yang kita butuhkan. Sesuatu yang bekerja dalam diam. Tanpa banyak bicara. Tanpa minta imbalan. Dan menghasilkan buah — dalam segala arti kata.
Setelah Lebaran, di Medan, kita akan menyaksikan momen kecil yang mungkin punya dampak besar. Serangga dari Tanzania dilepas. Indonesia menahan napas.
Enam bulan kemudian, kita tahu jawabannya.
Semoga jawabannya: berhasil.
Raja Chip Dunia Kembali, Jepang Kejar 40 Triliun Yen Semikonduktor di Era AI
Artikel Terkait
Panik Chat WhatsApp Hilang? Ini 3 Cara Pulihkan Pesan Lewat Google Drive dan Lokal
Pabrik dan Durian Melimpah, PAD Cekak - Kegelisahan Anleg Arnold di Meja Paripurna
Gaya Legislator Hi Wardi, Sulap Malam Ramadan Parigi Jadi Arena Lari Sicepat Petir
Harga HP Naik Mulai 16 Maret, Ternyata Biang Keroknya Krisis Chip Memori Global
Raja Chip Dunia Kembali, Jepang Kejar 40 Triliun Yen Semikonduktor di Era AI