• Jumat, 3 Juli 2026

Mengapa Trump Ciut? Ada Bayang-bayang Rusia dan China di Belakang Iran

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Jumat, 23 Januari 2026 | 02:22 WIB
Analisis ketegangan Iran-AS: Mengapa Donald Trump disebut
Analisis ketegangan Iran-AS: Mengapa Donald Trump disebut

Sulawesitoday - Ngeri. Benar-benar ngeri melihat apa yang terjadi di Iran sekarang.

Bayangkan, korban jiwa sudah menembus angka 16.000 orang. Yang luka-luka? Sudah lebih dari 300.000 orang. Semuanya berawal dari satu hal: kepercayaan pada sebuah harapan.

Donald Trump memang jago kalau urusan membakar semangat. Dia bahkan punya jargon baru untuk Iran: MIGA. Make Iran Great Again. Lewat Twitter—sekarang X—Trump terus memprovokasi rakyat Iran untuk turun ke jalan.

"Ayo protes terus, ambil alih negara kalian," begitu kira-kira pesannya. Trump bahkan menjanjikan sesuatu yang sangat manis: "Help is on its way". Bantuan dalam perjalanan.

Rakyat Iran pun terbuai. Mereka pikir militer Amerika Serikat akan segera datang mendarat. Mereka pikir kantor Presiden Iran akan segera dibom. Mereka berharap ada peristiwa seperti di Venezuela.

Tapi ternyata? Kosong.

Trump akhirnya dijuluki sebagai Raja PHP—Pemberi Harapan Palsu. Sampai detik ini, tidak ada satu pun bom Amerika yang jatuh untuk menolong pengunjuk rasa. Rakyat Iran merasa dikhianati. Mereka merasa hanya dijadikan canon fodder—peluru gratisan atau tumbal demi kepentingan Barat.

Pertanyaannya: Kenapa Trump yang begitu perkasa tiba-tiba ciut?

Ternyata, di balik layar, ada kekuatan besar yang pasang badan. Begitu Trump mencuit soal bantuan, Vladimir Putin langsung bergerak. Rusia mengirim surat peringatan keras: kalau Amerika berani menyentuh Iran, dunia harus siap perang total.

Bukan cuma Rusia. China pun tidak tinggal diam.

Angkatan laut Rusia dan China sudah mulai berpatroli di Teluk Oman. Bahkan, negara-negara anggota BRICS kini sedang berkumpul di Afrika Selatan untuk latihan perang. Pesannya jelas kepada Washington: kalau kalian berani kirim kapal induk, kami sudah siap berperang bersama.

Bahkan sahabat dekat Amerika, Israel, kabarnya ikut meminta Trump menahan diri. Benjamin Netanyahu disebut-sebut menelepon Trump agar jangan dulu melakukan pengeboman. Mengapa? Karena Israel punya strategi lain: menghancurkan Iran pelan-pelan dari dalam lewat ratusan agen Mossad yang sudah menyusup ke sana.

Kondisi ini membuat negara-negara tetangga Iran seperti Arab Saudi dan Oman ketakutan. Mereka buru-buru melarang Amerika menggunakan wilayah udara mereka untuk menyerang Iran. Takut kena serangan balik.

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini