• Senin, 22 Juni 2026

Maut di Ekor Commuter Bekasi, Cerita Kelam dari Gerbong Wanita

.
Amirullah, Sulawesi Today
- Selasa, 28 April 2026 | 14:29 WIB
Tragedi tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi menelan 14 korban jiwa. Simak kesaksian mencekam penumpang yang selamat dari maut.
Tragedi tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi menelan 14 korban jiwa. Simak kesaksian mencekam penumpang yang selamat dari maut.

Sulawesitoday - SENIN malam itu mendadak pekat di peron Stasiun Bekasi Timur. Dentuman keras memecah udara saat moncong lokomotif Argo Bromo Anggrek menghujam buritan KRL Commuter Line jurusan Cikarang.

Lampu-lampu gerbong meledak seketika. "Semua orang belum sadar sampai bunyi ledakan lampu dan gelap," kenang seorang penyintas, menggambarkan suasana horor di dalam kereta nomor PLB 5568A itu.

Empat belas nyawa melayang dalam sekejap di atas rel Jawa Barat tersebut. Sebanyak 84 penumpang lainnya kini masih berjuang pulih di ruang-ruang perawatan rumah sakit terdekat.

Baca Juga: Bukan Sekadar Janji, Anleg Muhammad Basuki Salurkan Bantuan Tunai dan Bibit di Masa Reses

Saksi mata menceritakan bagaimana badan kereta terdorong hebat hingga terseret beberapa meter. Sebagian besar korban merupakan penghuni gerbong khusus wanita yang ringsek hampir separuh badan.

Seorang penumpang, pengguna akun @raradaniia, menggambarkan betapa kerasnya benturan dari kereta relasi Gambir-Surabaya itu. Pipinya beset dan jarinya menghantam lantai aspal kereta yang keras.

"Gue nggak tahu di gerbong berapa, tiba-tiba jatuh ke kiri," tulisnya di linimasa media sosial. Ia terlempar saat tenaga raksasa dari lokomotif Argo Bromo mendorong paksa gerbong yang ia tumpangi.

Bau sangit asap dan debu tebal segera memenuhi rongga paru-paru di tengah kegelapan. Penumpang yang selamat mencoba merangkak keluar di sela-sela reruntuhan besi dan jerit histeris.

Beruntung, sebuah peringatan manual sempat terdengar sesaat sebelum maut menjemput. Seseorang berteriak lantang meminta para penumpang segera meloncat keluar dari dalam kereta.

"Woy keluar!" teriak pria misterius itu di tengah kepanikan yang memuncak. Teriakan itulah yang menyelamatkan nyawa mereka yang sigap merespon tanda bahaya.

Baca Juga: Anleg Selpina Basrin dan Pertaruhan Nyawa Warga Gio di Bawah Ancaman Banjir

Kini, desakan agar PT KAI membenahi sistem keamanan kembali mengemuka pasca insiden berdarah ini. Alarm peringatan dini di dalam kabin penumpang dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk antisipasi kecelakaan.

Harapannya, tak perlu lagi ada nyawa yang menjadi tumbal akibat lambatnya informasi bahaya bagi penumpang. Tragedi di Bekasi Timur ini menjadi catatan kelam bagi wajah transportasi masal kita.

Pihak otoritas masih terus melakukan penyelidikan mendalam di lokasi kejadian. Namun bagi para korban, trauma malam jahanam itu mungkin akan menetap selamanya di ingatan meraka.

Editor: Amirullah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini