Sulawesitoday - Gedung perpustakaan SDN Inpres 19 Luaor di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, mengalami kerusakan fisik berat dan dinyatakan tidak aman untuk digunakan secara normal oleh peserta didik. Struktur bangunan dipenuhi retakan pada bagian dinding dan tembok, sehingga mengancam keselamatan warga sekolah. Kondisi ini memaksa pihak sekolah membatasi aktivitas literasi secara ketat di area tersebut.
Kronologi Kerusakan dan Pembatasan Akses Siswa
Kondisi fisik ruang perpustakaan saat ini masuk dalam kategori kritis. Pihak sekolah memilih tidak menutup total akses, melainkan menerapkan sistem pembatasan demi menghindari risiko kecelakaan.
Kepala SDN Inpres 19 Luaor menjelaskan detail pembatasan aktivitas siswa di lapangan.
"Kondisi fisik bangunan kami kategorikan rusak berat dan masuk kategori tidak aman. Hal itu disebabkan adanya retakan-retakan pada dinding atau tembok perpustakaan. Siswa hanya diperbolehkan mengambil atau meminjam buku, kemudian membawanya ke kelas atau ke ruang terbuka untuk dibaca. Mereka tidak diperbolehkan berlama-lama di dalam ruangan perpustakaan," jelasnya.
Kerusakan infratruktur ini terbukti memberikan dampak psikologis langsung bagi murid. Banyak siswa merasa was-was dan cemas saat melintas atau berada di sekitar area gedung perpustakaan karena khawatir struktur bangunan tiba-tiba runtuh.
Langkah Darurat Sekolah: Pengawasan Ketat dan Pojok Literasi
Menyikapi keterbatasan fasilitas dan ancaman bahaya fisik, manajemen sekolah menerapkan tiga langkah mitigasi darurat secara mandiri:
- Sistem Pengawasan Area: Guru melakukan pengawasan ketat secara berkala agar siswa tidak bermain atau berkumpul di dekat area bangunan yang retak.
- Evakuasi Koleksi Buku: Sebagian besar koleksi buku cerita dan bahan bacaan umum telah dipindahkan keluar dari gedung perpustakaan yang rusak.
- Aktivasi Pojok Baca Kelas: Sekolah mengalihkan aktivitas membaca dengan membangun pojok literasi di setiap ruang kelas dan memanfaatkan area terbuka sekolah.
Hambatan fasilitas ini berdampak langsung pada performa akademik. Pihak sekolah mencatat tingkat minat baca siswa kini bersifat fluktuatif. Pola ini terlihat jelas dari capaian rapor pendidikan literasi sekolah yang terus mengalami pasang surut secara berkala.
Kendala Anggaran Aturan Dapodik dan Harapan Intervensi Pemda
Pihak sekolah menegaskan bahwa perbaikan mandiri tidak mungkin dilakukan. Regulasi ketat penggunaan anggaran operasional sekolah melarang alokasi dana untuk pembangunan fisik berskala besar. Selain itu, nominal anggaran operasional yang diterima sekolah terlalu kecil untuk mendanai rehabilitasi gedung secara mandiri.
Sebagai solusi formal, SDN Inpres 19 Luaor telah menempuh jalur birokrasi dengan dua langkah utama:
- Memperbarui data sarana dan prasarana pada sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik) secara berkala.
- Mengajukan proposal resmi terkait bantuan pembangunan dan rehabilitasi gedung ke instansi terkait.
Sekolah kini membutuhkan intervensi nyata dari Pemerintah Kabupaten Majene maupun pemerintah pusat melalui dana alokasi khusus atau program revitalisasi sekolah. Langkah konkret ini mendesak dilakukan demi menjamin keselamatan, keamanan, dan hak belajar para siswa di ruang yang layak.
Artikel Terkait
Banjir Rendam 5 Kecamatan di Parigi Moutong, Infrastruktur dan Ratusan Hektare Lahan Rusak
Banjir dan Gempa Parigi Moutong Juni 2026, 12 Desa Terdampak dan 92 Rumah Rusak
Delapan Media Promedia Group Diserang DDoS 160 Juta Request, Diduga Terkait Berita Korupsi
Guru Honorer SDN 19 Inpres Luaor Majene Minta Pemerintah Berikan Gaji Layak
Aksi Pemalangan Aktivitas PT IPIP Kolaka Picu Bentrok Antar Warga, Ancam PSN