• Kamis, 25 Juni 2026

Mengenal Sesar Aktif di Parigi Moutong dan Risiko Bencana Hidrometeorologi yang Disorot DPRD

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Rabu, 24 Juni 2026 | 15:45 WIB
Pasca-kunjungan DPRD Parigi Moutong ke BNPB, ketahui penyebab wilayah ini rawan gempa & banjir berdasarkan analisis Sesar Sausu serta pemetaan 9 DAS utama.
Pasca-kunjungan DPRD Parigi Moutong ke BNPB, ketahui penyebab wilayah ini rawan gempa & banjir berdasarkan analisis Sesar Sausu serta pemetaan 9 DAS utama.

Sulawesitoday - Rentetan bencana alam yang melanda Kabupaten Parigi Moutong sepanjang Juni 2026 memicu respons cepat dari otoritas legislatif daerah. Menindaklanjuti gempa bumi tektonik bermagnitudo M 6,7 dan banjir luapan yang merendam pemukiman warga di berbagai kecamatan, delegasi Lintas Komisi DPRD Parigi Moutong yang dipimpin oleh Sutoyo, S.Sos. langsung menyambangi Kantor Pusat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta pada Selasa, 23 Juni 2026.

Kunjungan kerja darurat ini dilakukan untuk mendesak percepatan distribusi logistik, penambahan Dana Siap Pakai (DSP), serta pembangunan infrastruktur pengendali banjir. Langkah strategis para wakil rakyat ini menegaskan urgensi pemahaman mendalam mengenai karakteristik geologi mikro dan kerentanan hidrometeorologi yang membayangi wilayah pesisir Teluk Tomini tersebut.

Ancaman Sesar Aktif Sulawesi Tengah di Parigi Moutong

Kabupaten Parigi Moutong dikelilingi oleh jaringan patahan bumi yang sangat aktif. Gempa bumi berkekuatan magnitudo M 6,7 yang mengguncang kawasan ini bersumber dari pergerakan Sesar Sausu. Patahan ini merupakan sesar lokal yang memiliki mekanisme pergerakan geser (strike-slip) dan tergolong dangkal, sehingga getarannya memicu kerusakan masif pada struktur bangunan di permukaan daratan.

Selain Sesar Sausu, data Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGen) menunjukkan ada beberapa karakteristik geologi mikro yang mengancam wilayah ini:

  • Sesar Sausu: Patahan aktif penanggung jawab gempa M 6,7 yang berpusat di darat tenggara Palu, berdampak langsung pada kerusakan pemukiman di Desa Torue dan Desa Tolai.
  • Sesar Lokal Unidentified: Berdasarkan catatan Stasiun Geofisika Kelas I Palu, wilayah pesisir timur Parigi Moutong menyimpan puluhan sesar minor berskala mikro yang belum teridentifikasi sepenuhnya, namun aktif memicu rentetan gempa susulan (aftershocks).
  • Zona Transisi Palu-Koro: Jaringan patahan utama di Sulawesi Tengah ini memberikan rambatan tekanan energi (stres tektonik) tektonik ke sesar-sesar minor di sekitar Teluk Tomini.

Mengapa Parigi Moutong Rawan Banjir Bandang?

Karakteristik bencana alam di Parigi Moutong didominasi oleh bencana hidrometeorologi, khususnya banjir bandang dan tanah longsor. BPBD Kabupaten Parigi Moutong mencatat bahwa lebih dari 70 persen kejadian bencana tahunan di wilayah ini dipicu oleh faktor cuaca ekstrem dan anomali atmosfer.

Terdapat faktor alami yang menyebabkan wilayah ini sangat rentan terhadap luapan air:

  • Topografi dan Kemiringan Lereng: Parigi Moutong memiliki lanskap dengan tingkat kemiringan lereng yang sangat curam dari arah pegunungan langsung menuju pesisir pantai.
  • Jaringan Hidrologi yang Padat: Wilayah ini memiliki 9 Daerah Aliran Sungai (DAS) utama serta sedikitnya 130 anak sungai. Ketika hujan lebat berdurasi lebih dari 2 jam terjadi, air langsung mengalir deras membawa material sedimentasi.
  • Anomali Cuaca dan Belokan Angin: Pertemuan angin di atas perairan Teluk Tomini memicu pembentukan awan konvektif tebal yang menghasilkan curah hujan ekstrem dalam waktu singkat.

Daftar Kecamatan Rawan Banjir dan Longsor di Parigi Moutong

Berdasarkan dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) yang dirilis oleh BPBD, berikut adalah pemetaan wilayah kecamatan yang masuk ke dalam zona merah rawan bencana hidrometeorologi tinggi:

  • Zona Selatan (Rawan Banjir & Gempa): Kecamatan Torue, Kecamatan Tolai, Kecamatan Balinggi, dan Kecamatan Sausu. Wilayah ini berbatasan dengan jalur sesar dan muara sungai besar.
  • Zona Tengah (Rawan Luapan Sungai): Kecamatan Parigi, Kecamatan Parigi Selatan, Kecamatan Parigi Barat, Kecamatan Toribulu, dan Kecamatan Sidoan.
  • Zona Utara (Rawan Longsor Jalur Trans Sulawesi): Kecamatan Tomini, Kecamatan Mepanga, Kecamatan Moutong, dan Kecamatan Taopa. Curah hujan tinggi di wilayah ini kerap memicu longsoran yang memutus urat nadi transportasi darat.

Strategi Mitigasi Mandiri untuk Masyarakat

Mengingat ancaman gempa bumi tektonik dan banjir bandang dapat terjadi kapan saja tanpa peringatan dini yang lama, BPBD mengimbau masyarakat untuk memperkuat kapasitas mitigasi mandiri:

Paham Struktur Bangunan: Memastikan perbaikan atau konstruksi rumah tinggal memiliki ketahanan terhadap guncangan gempa bumi dangkal.

Siaga Durasi Hujan: Jika terjadi hujan lebat dengan durasi berturut-turut selama 2 hingga 3 jam, warga di sekitar bantaran 9 DAS utama diinstruksikan untuk segera melakukan evakuasi mandiri ke tempat yang lebih tinggi.

Aktivasi Destana: Memaksimalkan peran program Desa Tangguh Bencana (Destana) di sepanjang pesisir Teluk Tomini sebagai pusat informasi dan jalur evakuasi berbasis komunitas.

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini