[wpseo_breadcrumb]
Petani di Parigi Moutong Tercekik Surplus Beras, Harga Anjlok dan Pupuk Mahal
Surplus Beras Tak Berimbas Positif, Petani Menjerit
Sulawesitoday - Surplus beras di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (Sulteng) yang terus meningkat setiap tahunnya, ternyata tak berimbas positif bagi para petani. Alih-alih meningkatkan pendapatan, surplus justru membuat mereka tercekik karena harga beras anjlok dan harga pupuk melambung tinggi.
"Kami menilai penanam tiga sampai empat kali, memang sangat baik untuk petani, tapi tidak baik untuk hasil produksi. Kenapa, biaya yang kita keluarkan tidaklah sedikit, semantara penjualan tidak mengembalikan modal kami," keluh I Wayah Kerti, salah satu petani di Desa Tolai, Kecamatan Torue, Kamis 30 Mei 2024.
Penanam Tiga Kali Setahun, Biaya Mahal, Hasil Tak Seimbang
Program IP 400 dan IP 300 yang digagas pemerintah untuk mengejar target surplus, justru memberatkan para petani. Mereka dipaksa untuk melakukan penanaman tiga hingga empat kali dalam setahun dengan keterbatasan biaya pembelian obat-obatan.
"Setiap kami mengusulkan pupuk, itu sudah sesuai jumlah kebutuhan kami, tetapi begitu kita terima selalu mengalami kekurangan," tegas Kerti.
Harga Anjlok, Petani Beralih Tanaman Lain
Harga beras yang anjlok akibat surplus, membuat para petani semakin terpuruk. Bahkan, beberapa di antaranya berencana untuk mengalihkan sebagian lahannya ke tanaman lain.
"Berapa kali kita sampaikan ke Bulog untuk dinaikan harganya, mereka malah bertahan di harga yang pemerintah keluarkan," jelas Made Agus, petani lainnya.
Pupuk Mahal, Harga Obat-obatan Melonjak
Tak hanya harga beras yang anjlok, harga pupuk dan obat-obatan pertanian pun melambung tinggi. Hal ini membuat biaya produksi semakin mahal dan keuntungan petani semakin tipis.
"Harusnya pemerintah daerah lebih mengutamakan beras petani lokal ketimbang dari daerah luar, jangan mengejar surplus tapi menyengsarakan petani," tegas Agus.
Pemerintah Diminta Intervensi
Para petani meminta pemerintah untuk segera turun tangan mengatasi masalah ini. Mereka berharap agar harga beras dinaikkan dan harga pupuk dan obat-obatan diturunkan.
"Pemerintah hanya menargetkan program, namun tidak memperhatikan petani dengan serius," kata Kerti. "Kami mohon kepada pemerintah untuk segera membantu petani, jangan sampai kami semakin terpuruk," tambahnya.