Sulawesitoday - Terik matahari di Kota Palu tak sekadar menyengat kulit, tapi juga mulai mencemaskan. Dalam siklus 24 jam terakhir, suhu di ibu kota Sulawesi Tengah ini menembus angka 35,0 derajat Celsius.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menempatkan Palu di urutan kelima kota terpanas di Indonesia. Puncak panas nasional justru dirasakan warga Medan dengan catatan suhu 36,8 derajat Celsius.
Stasiun Meteorologi Mutiara Sis-Al Jufri mencatat lonjakan ini sejak 23 April lalu.
"Ini bagian dari dinamika cuaca di musim peralihan," tulis publikasi resmi BMKG pusat.
Baca Juga: Polisi Cegat 6 Kurir Sabu 16 Kilogram di Bandara Mutiara Palu, Terancam Hukuman Mati
Intensitas panas matahari memang cenderung mencapai puncaknya pada tengah hari. Kondisi ini membuat vegetasi di lahan terbuka menjadi sangat kering dan rapuh.
Risiko kebakaran hutan dan lahan kini menghantui area pinggiran kota. Lahan kosong yang dipenuhi semak kering menjadi sumbu yang siap tersulut api kapan saja.
Masyarakat diminta berhenti membersihkan lahan dengan cara dibakar.
Ada himbauan, jangan sembarangan membakar sampah di cuaca seekstrim ini.
Baca Juga: The Power of Emak-emak di Reses Feiny Kairupan, Perjuangkan Ketahanan Ekonomi Keluarga
Bahaya dehidrasi juga mengintai warga yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan. Konsumsi air minum yang cukup menjadi benteng utama menghadapi paparan panas berlebih.
BMKG terus memantau pergerakan suhu yang fluktuatif namun tetap tinggi ini. Kewaspadaan kolektif menjadi kunci agar Palu tidak berubah menjadi lautan api.
Pemerintah daerah diharapkan mulai menyiapkan skenario mitigasi darurat kebakaran. Jangan sampai respon terlambat saat api sudah melalap pemukiman atau hutan lindung.