Sulawesitoday - Lampu sorot petugas evakuasi membelah kegelapan di Stasiun Bekasi Timur. Di sana, Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin duduk mematung menatap rongsokan besi yang tak lagi berbentuk.
Tubuhnya merosot di depan badan kereta yang ringsek parah. Sorot matanya kosong, seolah memikul beban belasan nyawa yang melayang dalam sekejap.
Di sekelilingnya, suasana berubah menjadi neraka kecil yang bising. Sirine ambulans meraung bersahutan dengan teriakan petugas yang berjibaku mengeluarkan tubuh dari himpitan baja.
Baca Juga: Kesaksian Yatim Piatu di Balik Riuh Debat Beasiswa Berani Cerdas Sulteng
KAI pastikan seluruh biaya pengobatan hingga pemakaman ditanggung sepenuhnya.
Pernyataan itu keluar di tengah kepanikan keluarga yang mulai memadati area peron.
Data terakhir mencatat 15 orang meninggal dunia dalam insiden mematukan ini. Sebanyak 88 orang lainnya menderita luka-luka dan telah dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Publik menuntut perbaikan menyeluruh pada sistem persinyalan agar tragedi serupa tak berulang.
"Sistemnya tolong dicek ulang agar tidak ada kambing hitam lagi," cetus seorang warga di tengah kerumunan.
Baca Juga: Luka di Balik Senyum, Kisah Istri Pertama yang Mendampingi Akad Poligami
Pihak otoritas kini telah mendirikan posko darurat di area stasiun. Tempat ini menjadi tumpuan harapan bagi keluarga yang mencari kepastian nasib kerabat mereka.
Evakuasi terus berlanjut hingga dini hari di bawah rintik hujan tipis. Luka mendalam ini menjadi catatan hitam baru dalam sejarah transportasi rel tanah air.