Sulawesitoday - Ruang kabin pesawat yang membawa rombongan haji asal Sulawesi Barat mendadak riuh. Seorang jamaah lansia asal Mamuju tiba-tiba berdiri dan meminta pilot menghentikan burung besi itu di tengah awan.
Wanita tua itu bersikeras ingin pulang ke kampung halaman saat itu juga. Alasannya sederhana namun menyesakkan dada: ia teringat ayam-ayam peliharaannya belum diberi makan.
"Saya harus pulang sekarang, kasihan ayam di rumah kelaparan," ujar sang nenek dengan raut wajah cemas yang tulus.
Baca Juga: Misi Wamen HAM di Majene, Perkuat Kepatuhan Bisnis dan Kesadaran HAM di Lingkungan Kampus
Kepolosan itu sempat membuat penumpang lain tertegun sebelum suasana berubah menjadi haru.
Dugaan kuat, sang jamaah mengalami gejala penurunan daya ingat atau demensia. Kondisi ini seringkali membuat lansia terjebak dalam memori rutinitas yang dianggapnya sangat mendesak.
Para pramugari dan pendamping haji segera mendekat dengan langkah pelan. Mereka mencoba merangkul pundak sang nenek sembari memberikan pengertian secara perlahan.
Butuh waktu beberapa menit untuk meyakinkan beliau bahwa perjalananya kali ini jauh lebih mulia. "Nenek sedang menuju rumah Allah, soal ayam sudah ada yang mengurus di Mamuju," lereh seorang pendamping.
Baca Juga: Sedekah Makanan di Majene, Menghidupkan Warisan Hj Nurjannah Latief
Secara bertahap, ketegangan di dalam kabin mulai mencair. Sang jamaah akhirnya luluh dan kembali duduk di kursinya dengan perasaan yang lebih tenang.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi para petugas tentang tantangan mengawal jamaah resiko tinggi. Fisik yang renta terkadang membawa ingatan melanglang buana hingga ke kandang ayam di belakang rumah.
Kini, jamaah tersebut dikabarkan telah melanjutkan perjalanan menuju tanah suci. Semoga ibadahnya mabrur dan kekhawatirannya akan urusan duniawi bisa terobati di sana.