Sulawesitoday - Empat puluh hari telah berlalu sejak berpulangnya Hj. Nurjannah Latief, namun jejak kepeduliannya belum mengering. Alih-alih sekadar menggelar seremoni doa yang sunyi, pihak keluarga memilih cara yang lebih "berisik" dalam bentuk amal: menyasar perut dan senyum anak-anak yatim di Panti Asuhan Amanah Aisyiyah, Kabupaten Majene, Sabtu, 25 April 2026.
Suasana di kediaman almarhumah memang khidmat. Doa-doa dilantunkan, ayat suci menggema. Tapi poin utamanya bukan di situ saja. Keluarga besar sepakat bahwa mengenang sosok penyayang seperti almarhumah haruslah dengan cara yang beliau sukai semasa hidup: berbagi.
Maka, sejumlah paket makanan pun meluncur ke panti asuhan. Ini bukan soal pamer kemewahan, tapi soal menyambung nafas kebaikan.
"Kami ingin doa terbaik mengiringi almarhumah, dan semoga apa yang diberikan dapat bermanfaat bagi anak-anak," ujar salah satu anggota keluarga di sela-sela kegiatan. Suaranya sedikit bergetar, namun raut wajahnya menunjukkan keiklasan yang dalam.
Gaya peringatan seperti ini terasa berbeda. Tidak kaku. Di Panti Asuhan Amanah Aisyiyah, kedatangan bantuan itu disambut hangat. Para pengurus panti terlihat sumringah. Bagi mereka, ini bukan sekadar bantuan pangan rutin, tapi sebuah contoh nyata bagaimana nilai-nilai kemanusian tetap dirawat meski sang tokoh telah tiada.
Memang, ditinggal orang tercinta itu berat. Pedih. Tapi keluarga Hj. Nurjannah sepertinya paham betul falsafah lama: bahwa kematian hanyalah perpindahan bentuk pengabdian.
Ada momen haru saat prosesi pembacaan doa berlangsung. Kerabat dan tetangga menyemut. Namun, suasana haru itu segera berganti menjadi energi positif saat bantuan diserahkan. Pihak pengurus panti menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya. Kata mereka, bantuan ini sangat berarti untuk kelangsungan hidup harian anak-anak di sana.
Momen 40 hari ini akhirnya tidak hanya menjadi ajang berkumpulnya trah keluarga. Ia menjelma menjadi momentum penguat silaturahmi sekaligus pengingat bagi masyarakat sekitar. Bahwa sebaik-baiknya peringatan wafatnya seseorang, adalah dengan memastikan kebaikkannya tetap "hidup" di tangan orang-orang yang membutuhkan.
Hj. Nurjannah mungkin sudah tenang di sana. Namun, di Majene hari ini, namanya disebut berkali-kali dalam bait doa dan suapan nasi anak-anak yatim. Sebuah cara pamit yang sangat elegan.
BPBD Parigi Moutong Bekali Nelayan Bantaya Teknik SAR dan Pantau Cuaca BMKG
Artikel Terkait
Bukan Aspal, Serli Legislator PAN Serap Aspirasi Kompor Seribu Mata di Reses Tomini Utara
Legislator Arpan Sahar Reses di Sidoan, Soroti Pernikahan Dini Hingga Infrastruktur Pertanian
Satlinmas Parigi Moutong, Bukan Lagi Sekadar 'Pelengkap' Desa
BPBD Parigi Moutong Bekali Nelayan Bantaya Teknik SAR dan Pantau Cuaca BMKG
Benalu Kompetensi di Lingkaran Kekuasaan