berita

Nenek 79 Tahun Bertahan Hidup 5 Hari di Hutan Tomohon, Ditemukan Selamat Berkat Drone Thermal

Senin, 4 Mei 2026 | 14:39 WIB
Aneta Awuy (79) ditemukan selamat setelah lima hari hilang di hutan Tomohon. Tim SAR gunakan drone thermal untuk lacak posisi korban.

Sulawesitoday - Aneta Awuy memenangkan pertaruhan nyawa melawan sunyi dan dinginnya hutan Sulawesi Utara. Nenek berusia 79 tahun ini ditemukan selamat setelah lima hari menghilang di belantara Perkebunan Zanuriri, Tomohon Selatan.

Senin pagi itu, wajah pucat Aneta tertangkap lensa kamera drone thermal. Tubuhnya meringkuk lemas di sela rimbunnya Perkebunan Rambunan, sekitar tiga kilometer dari rumahnya.

"Sinergi lintas organisasi menjadi kunci utama korban tetap bisa ditemukan," ujar Kepala Basarnas Sulut, George Mercy Randang. Ia nampak lega menyaksikan operasi pencarian berakhir dengan muara yang manis.

Baca Juga: Bukan Aurora, Ini Rahasia Awan Warna-Warni Jonggol yang Bikin Heboh Jagat Maya

Drama hilangnya warga Kelurahan Lahendong ini bermula sejak Rabu pekan lalu. Saat itu, Aneta melangkah meninggalkan rumah menuju kebun namun tak kunjung kembali hingga fajar menyingsing.

Keluarga sempat melakukan pencarian mandiri yang berakhir dengan kebuntuan. Pihak kelurahan lantas mengadu ke Basarnas Manado demi melacak jejak raga yang mulai renta tersebut.

Medan perkebunan yang rapat sempat menjadi tembok penghalang bagi tim penyelamat. Petugas harus membagi personel ke berbagai titik kordinat sejak matahari baru saja mengintip di ufuk timur.

Beruntung, teknologi pemindai suhu tubuh bekerja dengan presisi tinggi di lapangan. Hanya butuh waktu 40 menit sejak pencarian hari kelima dimulai, posisi Aneta berhasil terdeteksi.

Tim SAR segera menembus semak belukar untuk mengevakuasi korban yang sudah sangat kepayahan. Ambulans telah menunggu di pinggir jalan untuk melarikan sang nenek ke RS Siloam Sonder.

Kondisi cuaca yang tidak menentu di lapangan sempat menjadi kekawatiran utama tim evakuasi. Usia yang sudah lanjut membuat risiko dehidrasi dan hipotermia mengancam nyawa setiap detiknya.

Baca Juga: Belajar dari Kebakaran Sekolah, Wawali Imelda Minta RT dan Lurah Awasi Pembakaran Sampah

Humas Basarnas Sulut, Nuriadin Gumeleng, menyebut operasi ini merupakan kerja cepat yang berpacu dengan waktu.

"Faktor kelelahan dan kondisi cuaca di lapangan menjadi perhatian utama kami," tuturnya.

Kini, riuh operasi kemanusiaan di Tomohon Selatan itu telah resmi berakhir. Seluruh relawan dan alat angkut berat ditarik kembali ke markas masing-masing setelah debrifing singkat dilakukan.

Halaman:

Tags

Terkini