berita

Tolak Tambang di Parigi Moutong, Kades Posona Pilih Emas di Atas Tanah

Minggu, 17 Mei 2026 | 19:49 WIB
Kades Posona lantang menolak izin tambang baru di depan Bupati Parigi Moutong. Warga rugi miliaran dan pilih fokus urus sawah.

Sulawesitoday - Kepala Desa Posona Darmawan memilih pasang badan menolak investasi tambang di wilayahnya. Sikap lantang ini disampaikan langsung di hadapan Bupati Parigi Moutong Erwin Burase pada Sabtu pekan lalu.

Darmawan meminta pemerintah daerah menyetop penerbitan izin tambang baru. Warga setempat trauma dan enggan ruang hidup mereka rusak oleh industri ekstraktif.

Investasi perkebunan dan pertanian dinilai jauh lebih menjanjikan bagi masa depan desa. Sektor agraria ini terbukti menjadi tumpuan urat nadi ekonomi masyarakat.

Baca Juga: Pelarian Pelaku Penyekapan Mahasiswi Kaltara Berakhir di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya Usai Buron Keluar Sulawesi

Saat ini ada sekitar 200 hektare sawah irigasi yang aktif digarap warga. Selain itu masih hamparan luas 60 hektare sawah tadah hujan.

Aktivitas pengerukan bumi dikhawatirkan merusak sistem pengairan dan lingkungan. Keberadaan sawah produktif taruhannya jika alat berat mulai masuk desa.

“Biarkan emas tetap berada di bawah bumi yang kita pijak,” ujar Darmawan disambut riuh tepuk tangan warga.

Masyarakat setempat kini lebih terpikat pada program pembangunan hijau. Desa ini baru saja mendapat kucuran bantuan bibit dari Kementerian Kehutanan.

Bantuan ini menjadi sinyal kuat bahwa masa depan desa ada di sektor pertanian. Sektor ini dianggap nyata tanpa perlu merusak alam sekitar.

Infrastruktur penunjang ekonomi juga mulai mengalir ke Kecamatan Kasimbar. Pemerintah daerah mengucurkan anggaran ratusan juta rupiah untuk pembangunan jalan.

Baca Juga: Viral Petugas SPBU Toboli Sulteng Tantang Warga Viralkan Usai Diduga Curangi Takaran Pertalite

Desa Posona juga sedang berjuang mengincar program penyediaan air bersih nasional. Kuota bantuan untuk wilayah Parigi Moutong memang sangat terbatas.

Sikap skeptis pada tambang lahir dari trauma panjang masa lalu. Kehadiran PT Trio Kencana menyisakan luka dalam bagi ingatan kolektif warga.

Janji manis keuntungan ekonomi menguap begitu saja menjadi isapan jempol. Sebaliknya kerugian materiil warga justru menembus angka satu miliar rupiah.

Halaman:

Tags

Terkini