Sulawesitoday - Praktik manipulasi solar subsidi nelayan terbongkar. Oknum pengecer disinyalir menggandakan dokumen barcode resmi untuk menyedot kuota BBM nelayan tangkap.
Pelaku usaha perikanan meluapkan amarah saat rapat. "Hak solar kami berkurang drastis akibat barcode dikuasai pengecer," ujar Rahmat Tanjung pada 24 Juli 2026.
Pengurangan porsi solar memukul aktivitas melaut. Nelayan lokal terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk membeli BBM eceran demi bisa tetap beroperasi.
Hajrin mengaku porsi solarnya disunat hingga dua ton. Dari jatah lima ton per bulan, ia cuma menerima tiga ton dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum.
Kelangkaan pasokan solar sempat menghentikan armada. "Kondisi ini membuat kami batal melaut selama tiga hari beruntun," kata Hajrin di lokasi pertemuan.
Baca Juga: Modus Japre Disinyalir Kurangi Jatah Solar Bersubsidi Nelayan Parigi Moutong
Dokumen resmi keluaran dinas diduga kuat dipalsukan. Barcode asli tapi palsu beredar bebas di tangan pedagang eceran tanpa verifikasi lapangan yang ketat.
Alokasi solar berkurang mengancam nasib para pekerja. Setiap pemilik kapal menanggung beban gaji anak buah kapal yang bergantung pada hasil tangkapan laut.
Pihak perikanan daerah mengklaim penyaluran pas. Mekanisme penerbitan barcode berjalan sesuai aturan berdasarkan laporan petugas lapangan di pelelangan.
Nelayan mendesak pemerintah daerah bertindak tegas. "Pemerintah mesti jeli agar aturan ini tidak terus merugikan kami," ujar Ifan dengan nada prihatin.
Rapat koordinasi di pelataran kantor berjalan alot. Kepolisian beserta pengelola stasiun pengisian hadir mendengarkan jeritan para pelaku usaha perikanan.