kriminal

Kepala Desa di Togean Masuk Rutan: Bukan Karena Dana, Tapi Karena Tangan

Kamis, 1 Mei 2025 | 16:10 WIB
Seorang Kepala Desa di Togean ditahan atas kasus penganiayaan Mei 2024. Polisi khawatir ia kabur. Proses hukum dimulai, meski waktunya nyaris setahun telat.

Sulawesitoday - Di belantara birokrasi lokal, kita biasa mendengar kisah Kepala Desa yang bermain-main dengan dana desa. Tapi kali ini lain.

Kepala Desa ini bukan tersandung soal uang, tapi urusan tangan—yang, menurut polisi, mendarat terlalu keras ke tubuh orang lain.

Rabu malam, 30 April 2025, M.R., pria 43 tahun yang menjabat Kepala Desa di salah satu pelosok Togean, Tojo Una Una, resmi digelandang ke Rutan Polres.

Bukan karena skandal anggaran. Tapi karena satu perkara klasik yang seringkali terlupakan: penganiayaan.

Perkaranya bukan baru. Kejadiannya sudah nyaris setahun lalu, Mei 2024. Lokasinya di RT II, Dusun I, Desa Matobiai.

Korbannya seorang pria, yang namanya tak disebut. Tapi laporannya jelas, lengkap dengan nomor dan tanggal: 5 Mei 2024, masuk di buku besar Polsek Una Una.

Butuh hampir setahun sampai polisi merasa cukup dengan bukti-bukti. Hingga akhirnya keluarlah Surat Perintah Penahanan: SP.Han / 30 / IV / RES.1.6. / 2025 / Reskrim. Tertanda sah. Maka tak bisa lagi M.R. mengelak.

"Penahanan ini untuk kelancaran penyidikan. Kita khawatir tersangka akan kabur atau menghilangkan bukti," ujar Iptu Martono, Plt. Kasihumas Polres Tojo Una Una.

Kalimat yang terdengar formal, tapi menyimpan kekhawatiran khas penegak hukum daerah.

Tak banyak yang dibuka ke publik soal motif atau penyebab penganiayaan. Tapi yang pasti, kini M.R. harus menghitung hari dari balik jeruji.

Dua puluh hari ke depan, terhitung dari 30 April sampai 19 Mei, ia resmi jadi penghuni Rutan Polres.

Baca Juga: Rp1,7 Miliar Bocor di Proyek SPAM Huntap, Dua Terpidana Dijatuhi Vonis Penjara

Kasus ini tak sebesar headline nasional. Tapi ia menampar kenyataan: bahwa jabatan tak pernah jadi tameng bagi tindakan kekerasan.

Dan bahwa keadilan, meski sering terlambat, kadang tetap datang—meski harus menyeberangi laut Togean lebih dulu.

Tags

Terkini