kriminal

Tak Bisa Terbang, Tak Dapat Refund: Hasri Jack Ngamuk di Bandara Usai Batik Air Batalkan Penerbangan

Sabtu, 3 Mei 2025 | 15:58 WIB
Hasri Jack ngamuk di Bandara Makassar setelah Batik Air batal terbang tanpa alasan, pilih naik bus dan pertimbangkan gugatan perdata!

Sulawesitoday - Suasana Bandara Sultan Hasanuddin, Jumat sore (2/5), tak sehangat biasanya. Seorang penumpang berdiri di depan konter Batik Air—suaranya meninggi, wajahnya tegang. Namanya Hasri Jack.

Ia bukan tokoh terkenal. Tapi sore itu, Hasri menjadi simbol kecil dari suara besar yang kerap tak terdengar: penumpang yang tak tahu harus marah ke siapa saat maskapai membatalkan penerbangan begitu saja.

Tiket sudah dipesan sejak malam sebelumnya. Rute Makassar–Mamuju. Ia datang lebih awal, karena sistem check-in di ponselnya tak kunjung merespons. Tapi setibanya di bandara, bukan pintu keberangkatan yang menyambutnya. Melainkan kabar bahwa penerbangannya dibatalkan. Tanpa alasan yang layak.

“Katanya teknis. Tapi teknis macam apa yang tak bisa dijelaskan?” ujar Hasri. Nada bicaranya seperti seseorang yang sudah lama bersabar, tapi akhirnya kehabisan kata untuk meredam kecewa.

Ia menduga, dan ini bukan spekulasi yang aneh, bahwa pembatalan terjadi karena kursi pesawat terlalu banyak yang kosong. Sederhananya: rugi kalau tetap terbang. Dan di antara hitung-hitungan untung-rugi itu, yang dikorbankan adalah manusia.

Celakanya, tak ada refund. Tak ada kompensasi. Hanya diam. Dan konter customer service yang seperti tak tahu harus menjawab apa. “Saya keluar dari bandara dengan tangan kosong. Jalan kaki pun rasanya lebih masuk akal daripada menunggu jawaban yang tak kunjung tiba,” katanya.

Pihak Angkasa Pura I, lewat Taufan Yudhistira, mengkonfirmasi pembatalan dan menyebutkan alasan “teknis-operasional.” Tapi tidak lebih dari itu. Seolah kata “operasional” adalah palu ajaib untuk memukul semua bentuk pertanyaan.

Lion Group, induk dari Batik Air, juga belum memberi pernyataan lengkap. Danang Mandala Prihantoro hanya berkata singkat: “Saya bantu cek.” Lalu hilang dalam lalu lintas informasi yang padat tapi kosong.

Hasri kini sudah berada di Mamuju, setelah menempuh perjalanan darat yang jauh lebih panjang. Ia tengah mempertimbangkan gugatan perdata.

Baca Juga: Rp300 Ribu per Bulan, Pemerintah Siapkan Tunjangan untuk 310 Ribu Guru Honorer Mulai Juli

Bukan soal uang. Tapi soal harga diri. Soal hak yang terinjak di tengah sistem transportasi udara yang kadang lebih ringan dari awan, tapi lebih dingin dari kabin pesawat.

Dan mungkin, di balik suara Hasri yang meninggi di bandara, ada gema ribuan penumpang lain yang pernah mengalami hal serupa—tapi memilih diam. Karena percuma. Karena lelah.

Tags

Terkini