• Selasa, 21 Juli 2026

Hujan, Limbah, dan Diamnya DLHK Majene: Warga Banggae Timur Mengeluh Tak Didengar

.
Aswadin, Sulawesi Today
- Sabtu, 3 Mei 2025 | 01:24 WIB
Genangan kotor dan sampah meluber warnai jantung Majene. DLHK bungkam, warga resah, kota seolah dibiarkan kehilangan mukanya sendiri.
Genangan kotor dan sampah meluber warnai jantung Majene. DLHK bungkam, warga resah, kota seolah dibiarkan kehilangan mukanya sendiri.

Sulawesitoday - Di Majene, sampah kini punya panggungnya sendiri. Menggunung di Jalan Jenderal Sudirman, tepat di jantung Kecamatan Banggae Timur.

Plastik, sisa makanan, dan segala yang dibuang tapi tak benar-benar pergi, tumpah ruah hingga ke aspal. Seakan menuntut: siapa yang seharusnya peduli?

Jumat (2/5/2025), hujan turun. Tapi yang tercuci bukan jalanan—melainkan bau yang makin tajam. Genangan air dan limbah berpadu, membentuk aroma yang bisa menusuk dari jarak puluhan meter.

Kota pun berubah: dari pusat aktivitas menjadi panggung aroma busuk dan mata yang tak ingin menatap.

“Sudah hampir seminggu nggak diangkut. Di rumah saya pun sama,” kata Juleha, warga sekitar. Sembari menutup hidung, ia menatap tumpukan sampah yang nyaris menyentuh sepatu pengendara.

"Kalau terus begini, ini bukan cuma mengganggu, ini mengancam,” tambahnya.

Yang menarik—atau justru menyedihkan—pemandangan serupa tak cuma ditemukan di gang-gang kecil atau belakang pasar. Kantor Satpol PP? Dipagari kantong plastik.

Kantor Bupati? Tak kalah “berhias” sisa makanan. Titik-titik yang seharusnya menjadi simbol ketertiban, justru ikut tenggelam dalam kekacauan yang diam-diam dibiarkan.

Kita bisa menyalahkan musim hujan, bisa juga menyalahkan volume sampah. Tapi pada akhirnya, mata tetap tertuju pada Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Majene.

Apa kabar? Hingga berita ini dirampungkan, Kepala DLHK Inindria belum merespons. Seolah hilang bersama aroma kota yang dulu bersih.

Baca Juga: Roy Suryo Kena Giliran, Polisi Siapkan Pemanggilan Soal Ijazah Jokowi

Mungkin pemerintah berpikir, warga akan terbiasa. Tapi warga tahu, yang menumpuk bukan hanya sampah—melainkan rasa tidak dianggap. Kota ini tak sekadar kehilangan kebersihan, ia kehilangan rasa malu.

Dan barangkali, itulah yang paling berbahaya dari semua ini.

Editor: Aswadin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini