• Selasa, 21 Juli 2026

Ketika Pendidikan Menjadi Senjata Diam Melawan Kemiskinan Ekstrem di Parigi Moutong

.
Aswadin, Sulawesi Today
- Sabtu, 3 Mei 2025 | 00:15 WIB
Parigi Moutong gunakan pendidikan bukan hanya untuk mengajar, tapi menekan kemiskinan ekstrem. Strateginya sederhana: bawa anak kembali ke kelas.
Parigi Moutong gunakan pendidikan bukan hanya untuk mengajar, tapi menekan kemiskinan ekstrem. Strateginya sederhana: bawa anak kembali ke kelas.

Sulawesitoday - Angka bisa jadi kejam. Tapi di Parigi Moutong, angka justru jadi penanda harapan.

Dari sekitar 60.000 anak putus sekolah, kini tinggal 10.000 yang belum kembali ke bangku pendidikan. Bukan karena semua sudah mulus, tapi karena ada yang bergerak. Diam-diam, dan pelan-pelan.

"Kami terus menekan angka itu,” kata Sunarti, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Parigi Moutong, saat ditemui usai upacara Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei lalu. Suaranya tenang, tapi kalimatnya seperti bilah kecil yang menyelip tepat di antara janji-janji besar pembangunan.

Tahun ini, tema Hardiknas nasional berbunyi manis: “Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Namun di Parigi Moutong, pendidikan tak cuma soal mutu—tapi juga soal bertahan hidup.

Di balik upacara yang berlangsung khidmat di halaman Kantor Bupati, ada cerita yang tidak sempat dibacakan dalam naskah sambutan: bahwa pendidikan di daerah ini telah membantu menurunkan angka kemiskinan ekstrem.

Bukan sekadar jargon Musrenbang, tapi dengan kerja sunyi lewat PKBM—Pusat Kegiatan Belajar Mengajar—yang kini sudah berdiri di hampir seluruh kecamatan.

PKBM itu tidak punya pagar tinggi atau gedung megah. Tapi punya satu hal yang sering luput dalam rencana besar: akses.

Anak-anak yang pernah terlempar dari sistem—karena biaya, jarak, atau urusan rumah tangga yang datang terlalu dini—pelan-pelan kembali ditarik masuk. Formal, nonformal, semua diakomodasi.

Bukan karena sistemnya sudah sempurna, tapi karena diam-diam, para guru dan penggiat pendidikan lokal tahu: jika tidak diselamatkan sekarang, angka-angka itu akan membeku menjadi statistik kegagalan nasional.

"Kami terus berupaya menjangkau mereka.”sebut Sunarti.

Di sinilah kita mulai bertanya: seberapa jauh pendidikan bisa menjadi alat pemerataan, bukan hanya alat seleksi?

Di kabupaten seperti Parigi Moutong, pendidikan tak sempat menjadi ajang eksperimen kurikulum ideal. Di sini, pendidikan adalah tentang siapa yang masih bisa ditarik dari jurang kemiskinan—dan siapa yang terpaksa tinggal di sana.

Baca Juga: Bocah Hilang Usai Bermain di Sungai Tulo, Ditemukan Meninggal di Pantai Mamboro. Polisi: Masih Penyelidikan

Pemerintah pusat menggembar-gemborkan sekolah rakyat sebagai solusi inklusif untuk mereka yang tersingkir.

Halaman:

Editor: Aswadin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini