Tapi di Parigi Moutong, sekolah rakyat itu sudah lama ada. Bukan dalam bentuk proyek, tapi dalam bentuk semangat yang bertahan meski listrik kadang padam dan guru tak sempat update LinkedIn.
Apakah itu cukup? Tentu belum. Tapi setidaknya, mereka yang sempat berhenti kini punya tempat untuk kembali.
Dan di dunia yang makin kompetitif, kadang satu bangku kecil di PKBM bisa jadi perbedaan antara hidup dalam statistik, atau hidup dengan harapan.
Artikel Terkait
Ketika Dompet Digital Membawa Petaka: 5.000 Rekening Judol Dibekukan, Rp600 Miliar Menguap
Ancaman Kolaps APBD Donggala: Hanya 700 dari 2.055 PPPK Dibayar, Pembangunan Terancam Stagnasi
Gubernur Sulteng Anwar Hafid Berteriak Lantang, Bappenas Menoleh: DBH Sulteng Diambang Revisi
Polisi Air Ungkap Sindikat Bom Ikan di Perairan Paleleh Barat Buol
Bocah Hilang Usai Bermain di Sungai Tulo, Ditemukan Meninggal di Pantai Mamboro. Polisi: Masih Penyelidikan