kriminal

Tragis di Kaligawe: Truk Muatan Kedelai Ditabrak Kereta Api, Sopir Tewas Seketika

Kamis, 8 Mei 2025 | 12:33 WIB
Klakson sudah meraung, sirine sudah bernyanyi. Tapi truk itu tetap jalan. Di Kaligawe, satu nyawa terhenti di rel yang tak mengenal kompromi.

Sulawesitoday - Hari belum terlalu terang ketika suara gemuruh datang dari arah barat. KA Harina, relasi Bandung–Surabaya, sedang melaju seperti biasa. Tapi pagi itu, Kamis (8/5/2025), rel di Kaligawe, Semarang, menagih tumbal: satu truk muatan kedelai yang terlalu yakin bisa menyeberang.

Satu nyawa melayang. Sopir truk—yang hingga siang masih diidentifikasi aparat—tewas seketika setelah lokomotif menghantam kabin kendaraannya. Kedelaian berserakan. Saksi mata bilang, truk itu masuk pelintasan padahal sirine sudah lama berteriak dan palang pintu sedang menutup jalan. Masinis? Sudah membunyikan klakson, katanya, berkali-kali. Tapi tak ada cukup waktu untuk rem.

“Memang ada palang dan penjaga. Tapi sopir truk tetap menerobos,” ujar AKBP Yunaldi, Kasat Lantas Polrestabes Semarang.

KA Harina tak bisa melanjutkan perjalanan. Rangkaian kereta ditarik kembali ke Stasiun Tawang. Penumpang sempat terkatung-katung selama tiga jam. Tidak ada yang terluka dari sisi penumpang, tapi jalur Bandung–Surabaya jadi tercekik pagi itu—walau hanya sebentar.

Tentang Yang Tak Belajar dari Sejarah

Franoto Wibowo, Humas KAI Daop 4, menjelaskan bahwa pelintasan itu sebenarnya sudah sesuai prosedur. Lengkap dengan palang, sirine, bahkan penjaga. Tapi rupanya, tak semua pengemudi suka mendengar peringatan.

“Penumpang kami aman. KA Harina saja yang sempat tertemper,” ujarnya. Bahasa kereta memang unik: ‘tertemper’, seperti hanya bersentuhan. Padahal, truk itu remuk di ujung rel.

Kecelakaan di perlintasan sebidang bukan cerita baru. Rel dan jalan memang tak pernah benar-benar akur. Satu berjalan lurus, satu berbelok sesuka hati.

Baca Juga: Jadikan Pelajaran: Sembunyi di Mesin Cuci, Bocah 2 Tahun Nyaris Tak Keluar Hidup-Hidup

Tapi hukum fisika jelas: kereta tak bisa berhenti secepat mobil. Sayangnya, banyak pengemudi yang masih berpikir bisa ‘nyelip’ sebelum kereta datang.

Rel di Kaligawe tidak menawar. Ia tak bisa memilih siapa yang lewat, atau siapa yang terlambat mengambil keputusan. Tapi kita bisa memilih: berhenti, dengar klakson, tunggu. Kadang, yang menyelamatkan nyawa bukan kecepatan, tapi kerendahan hati untuk mengalah.

Tags

Terkini