Sulawesitoday - Ribuan aktivis dari seluruh dunia, seperti aliran sungai yang tak terbendung, kini terdampar di Al-Arish. Tujuan mereka satu, Rafah. Pintu gerbang Gaza yang diharapkan mampu mengalirkan harapan bagi jutaan jiwa yang tercekik blokade.
Namun, asa itu tampaknya harus pupus, atau setidaknya tertunda, manakala tangan besi otoritas Mesir mencengkeram.
Mesir dituding halangi aksi solidaritas untuk Gaza ini, mengubah niat mulia menjadi drama penahanan dan deportasi.
Ribuan aktivis dunia menuju Rafah, mengusung panji-panji kemanusiaan dalam tajuk Global March to Gaza, tiba di Mesir sejak Selasa. Mereka datang dari lebih 50 negara, menyatukan langkah dari Kairo menuju Al-Arish, hanya sekira 50 kilometer dari bibir perbatasan Rafah.
Rencana mereka adalah menempuh perjalanan kaki selama tiga hari dan mendirikan kamp selama 72 jam, membunyikan lonceng darurat bagi dunia agar membuka jalur bantuan.
Angka lebih 4.000 jiwa terlibat, mulai dari relawan kemanusiaan, aktivis hak asasi, hingga tokoh masyarakat sipil, datang dari Aljazair, Maroko, Turki, Swiss, bahkan Australia dan Amerika Serikat, membaur dalam satu tujuan mulia.
Alih-alih dukungan, otoritas Mesir justru memperlakukan mereka layaknya ancaman. Sekitar 200 aktivis ditahan dan sebagian besar dipaksa angkat kaki dari tanah Firaun.
Associated Press merilis, para aktivis, mayoritas dari Aljazair dan Maroko, dituding belum mengantongi izin keamanan yang diperlukan.
Sebuah alasan yang menguap di tengah jeritan kemanusiaan di Gaza, tempat anak-anak dan lansia terancam hidup tanpa pangan, obat, air bersih, dan listrik.
Seolah nasib Gaza kini tak hanya bertaruh pada blokade Israel, namun juga pada birokrasi dan kehati-hatian Mesir.
Krisis di Gaza memang sudah sampai di titik nadir. Setelah rentetan serangan militer Israel yang tak henti-henti, blokade ketat menjerat erat. Udara di Gaza begitu sesak, tak ada ruang untuk bernapas, bahkan bagi bantuan.
"Ini bukan sekadar aksi politik, ini soal kemanusiaan. Dunia tidak boleh terus berdiam diri," suara seorang aktivis dari Turki terdengar pilu di Al Jazeera, mewakili nurani ribuan lainnya.
Para peserta aksi mendesak Pemerintah Mesir agar segera membuka penuh akses perbatasan Rafah, membiarkan bantuan internasional masuk tanpa hambatan.
Tak cuma itu, seruan mereka meluas kepada komunitas global, agar bertindak cepat menghentikan genosida yang terus menggerogoti warga Palestina.