-
Bahaya Mengintai: Risiko Profesi Penagih Lapangan
Tragedi Hijrah membuka mata terhadap risiko tinggi profesi penagih. Pegawai muda ini harus berkeliling desa terpencil sendirian. Membawa uang tunai dalam jumlah besar tanpa pengamanan memadai.
PT PNM kini mengkaji ulang protokol keamanan. Sistem buddy system untuk penagihan di daerah rawan mulai dipertimbangkan. Asuransi jiwa pegawai lapangan juga akan ditingkatkan.
Tragedi serupa pernah terjadi di berbagai daerah. Tahun 2023, seorang penagih bank perkreditan rakyat di Kalimantan Tengah mengalami nasib serupa. Kasus yang tak pernah terungkap hingga kini.
-
Keluarga Berduka: Menanti Keadilan untuk Hijrah
Keluarga Hijrah terpukul berat. Anak bungsu dari tiga bersaudara ini baru setahun bekerja di PNM. Cita-cita membantu ekonomi keluarga sirna dalam sekejap.
"Hijrah anak yang rajin dan bertanggung jawab. Dia selalu hati-hati dalam bekerja. Tidak mungkin dia sembarangan ikut orang yang tidak dikenal," kenang sang ibu sambil menahan isak.
Upacara pemakaman direncanakan Minggu (21/9/2025) di kampung halaman. Rekan kerja dan masyarakat Pasangkayu menyatakan belasungkawa mendalam.
-
Tantangan Penegakan Hukum di Daerah Terpencil
Kasus pembunuhan Hijrah merefleksikan tantangan penegakan hukum di wilayah terpencil. Pasangkayu dengan topografi sulit dan akses terbatas menjadi tempat ideal pelarian pelaku kejahatan.
Jumlah personel polisi yang terbatas mempersulit pengawasan. Satu polsek harus mengcover puluhan desa yang tersebar. Komunikasi antar wilayah juga terkendala sinyal lemah.
Kapolres Pasangkayu, AKBP Andi Bachtiar, berkomitmen mengungkap kasus ini. "Kami akan kerahkan seluruh sumber daya. Pelaku tidak akan lolos dari jeratan hukum," tegasnya dengan nada penuh determinasi.
Baca Juga: Polisi ambil sampel makanan keracunan massal 277 siswa di Salakan, Banggai