Sulawesitoday - Permintaan sederhana untuk membuatkan mi instan kini berujung pada dakwaan pembunuhan berencana. MA (29), warga Cakung Jakarta Timur, resmi tersandung jeratan hukum berlapis setelah istrinya SN (33) menghembuskan nafas terakhir akibat luka bakar parah.
Tragedi rumah tangga yang mengguncang warga Cakung pada 18 September 2025 ini mencapai puncaknya ketika korban dinyatakan meninggal dunia pada Sabtu, 21 September 2025 pukul 07.30 WIB. Kasus yang semula dikategorikan sebagai penganiayaan dalam rumah tangga kini meningkat menjadi pembunuhan dengan ancaman hukuman paling berat dalam sistem peradilan Indonesia.
"Tersangka kini dijerat Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup," tegas Kanit Unit PPA Polres Metro Jakarta Timur, AKP Sri Yatmini, dalam konferensi pers di Mapolres Metro Jakarta Timur, Senin (22/9).
Selain pasal pembunuhan, MA juga terjerat Pasal 44 UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Kombinasi dakwaan ini memberikan ruang bagi jaksa untuk menuntut hukuman maksimal kepada pelaku yang telah mengakhiri hidup istri kandungnya sendiri dengan cara begitu keji.
-
Bagaimana Kronologi Lengkap Tragedi Ini Terjadi?
Peristiwa mengerikan itu bermula dari percekcokan sepele pada Kamis siang, 18 September 2025. MA meminta istrinya untuk membuatkan mi instan. Permintaan yang seharusnya biasa dalam kehidupan berumah tangga itu justru memicu perdebatan sengit.
"Tersangka meminta korban membuatkan mi instan. Namun entah mengapa hal sederhana itu berujung pertengkaran hebat," ungkap Sri Yatmini.
Situasi memanas. SN berusaha menghindar dengan berlari ke kamar ibunya. Sang mertua sempat turun tangan untuk meredam emosi menantunya. Upaya damai itu sia-sia belaka.
MA justru semakin terpancing. Pria berusia 29 tahun itu mengambil botol plastik berisi tiner dari sudut rumah. Cairan mudah terbakar itu ia genggam erat sambil mendekati istrinya yang tengah berlindung di balik sang ibu.
"Mau ngapain kamu?" tanya SN melihat suaminya membawa botol mencurigakan.
Pertanyaan itu tak dijawab dengan kata-kata. MA memantik korek api. Api kecil itu berubah menjadi bola api mengerikan ketika tiner disiramkan ke wajah, rambut, dada, dan leher istrinya.
Jeritan SN membelah keheningan siang itu. Api melahap separuh tubuh perempuan yang telah melahirkan anaknya. Dalam hitungan detik, kulit wajahnya hangus. Rambut habis terbakar.
-
Mengapa Korban Tidak Tertolong Meski Sudah Dirawat Intensif?
SN segera dilarikan ke rumah sakit di kawasan Pondok Kopi. Tim medis bekerja siang malam menyelamatkan nyawanya. Luka bakar mencakup 40 persen tubuh korban. Area vital seperti wajah dan saluran pernapasan mengalami kerusakan parah.
Selama tiga hari, SN berjuang melawan maut. Peralatan medis canggih dipasang untuk menunjang fungsi organ vitalnya. Namun luka terlalu dalam. Kerusakan terlalu ekstensif.
Pagi itu, monitor jantung menunjukkan garis datar. SN menutup mata untuk selamanya. Meninggalkan anak dan keluarga dalam kesedihan mendalam.