kriminal

Air Mata Kebahagiaan Sambut Kepulangan Bilqis, Balita Makassar Korban Penculikan di Taman Pakui Sayang

Senin, 10 November 2025 | 12:49 WIB
Tangis haru pecah. Minggu sore, 9 November 2025, ruang Mapolrestabes Makassar menyaksikan momen yang ditunggu ribuan warga Kota Daeng. Bilqis (4)

"Alhamdulillah Ya Allah, sangat bersyukur anakku kembali dengan selamat," tutur Dimas. Suaranya bergetar. Matanya masih sembab. Setelah penyerahan resmi, keluarga membawa Bilqis pulang ke kediaman mereka di Makassar.

Siapa Dalang di Balik Penculikan Bilqis?

Polisi berhasil mengungkap jaringan pelaku. Total empat orang ditangkap. Tersangka pertama adalah Sri Yuliana alias Ana (30). Perempuan inilah yang pertama kali membawa Bilqis dari taman bermain. Wajahnya terekam jelas di CCTV. Polisi melacak jejaknya hingga ke Jambi.

Pengakuan Ana mengejutkan. "Saya tidak intai Bilqis, awalnya mau ambil anak itu untuk dirawat dengan baik," katanya saat diperiksa di Mapolrestabes Makassar, Minggu, 9 November 2025. Klaim ini menimbulkan skeptisme. Bagaimana mungkin "niat baik" berujung penjualan anak?

Ana kemudian mengakui motif sebenarnya. "Tapi karena kami butuh uang, jadi tanggal 3 saya jual," ungkapnya. Desakan ekonomi menjadi alasan. Bilqis dijual kepada pelaku lain dengan harga yang belum diungkap polisi. Transaksi terjadi sehari setelah penculikan. Kecepatan yang mencurigakan.

Dari pengembangan kasus, polisi menangkap tiga pelaku lain di Jambi. Mereka berinisial ME, NA, dan AS. Ketiganya diduga terlibat membawa Bilqis keluar Makassar. Rute pelarian mengarah ke Jakarta. Namun di tengah perjalanan, mereka berhenti di Merangin, Jambi. Di sinilah polisi menggrebek.

"Semua pelaku akan diproses sesuai hukum yang berlaku," tegas Arya. Ia menegaskan penyelidikan masih berlanjut. Polisi mencurigai adanya jaringan lebih besar. Perdagangan anak bukan kejahatan sederhana. Ada mekanisme terorganisir di baliknya.

Bagaimana Masyarakat Makassar Merespons Kasus Ini?

Sejak hari pertama Bilqis hilang, warga Makassar bergerak masif. Media sosial dipenuhi foto Bilqis. Tagar #TemukanBilqis trending di berbagai platform. Relawan turun ke jalan. Poster disebarkan ke setiap sudut kota.

Pengungkapan kasus ini mendapat apresiasi luas. Kerja keras polisi dan partisipasi masyarakat membuahkan hasil. Namun kasus ini juga membuka mata banyak pihak. Taman bermain yang seharusnya aman bisa menjadi tempat berbahaya.

Kapolrestabes Makassar mengimbau orang tua lebih waspada. "Jangan lengah saat membawa anak ke ruang publik," pesannya. Pengawasan harus ketat. Anak tidak boleh bermain tanpa pendampingan. Pelaku bisa mengintai dari mana saja.

Kasus Bilqis juga mengungkap realitas kelam perdagangan anak di Indonesia. Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencatat ratusan kasus serupa setiap tahun. Motif bervariasi: adopsi ilegal, eksploitasi ekonomi, hingga perdagangan organ. Angka gelap diperkirakan jauh lebih tinggi.

Pulangnya Bilqis adalah berkah. Namun berapa banyak anak lain yang nasibnya tidak seberuntung dia? Pertanyaan ini menggantung. Menuntut jawaban dari penegak hukum. Menuntut kewaspadaan dari setiap orang tua.

Bilqis kini kembali di rumah. Ia bermain dengan mainan kesukaannya. Tertawa lepas bersama kakak-kakaknya. Namun bayangan enam hari itu tidak akan mudah terhapus. Bukan hanya dari ingatan Bilqis. Tapi dari kesadaran kolektif kita tentang betapa rapuhnya perlindungan terhadap anak-anak di negeri ini.

Keadilan untuk Bilqis adalah awal. Bukan akhir. Jaringan pelaku harus dibongkar tuntas. Agar tak ada lagi bocah polos yang harus merasakan teror serupa. Agar taman bermain tetap menjadi tempat canda tawa anak-anak. Bukan medan perburuan predator berkedok kesulitan ekonomi.

Halaman:

Tags

Terkini