Sulawesitoday - Kampanye politik di Maluku Utara berakhir tragis saat speedboat yang membawa pasangan calon gubernur dan wakil gubernur nomor urut 4, Benny Laos dan Sabrin Sehe, meledak di perairan Pulau Taliabu.
Insiden tersebut merenggut nyawa Benny Laos pada Sabtu, 12 Oktober 2024, pukul 14.05 WIT, tepatnya di Pelabuhan Regional Bobong. Tragedi ini mengejutkan banyak pihak dan meninggalkan duka mendalam di tengah tahapan kampanye yang sedang berlangsung intensif.
"Sementara kita masih menunggu laporan," ujar Bram, Kepala Seksi Operasi Basarnas Ternate, yang mengonfirmasi ledakan dan kematian Benny Laos. "Iya, speedboat meledak, dan Benny Laos meninggal."
Baca Juga: Oknum Brimob Tersangka Kasus Persetubuhan ABG di Parigi Moutong Ditahan, Eksekusi Resmi Dilaksanakan
Ledakan speedboat yang mengangkut rombongan ini menyisakan banyak pertanyaan terkait penyebab kecelakaan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi tentang apa yang memicu ledakan tersebut.
Namun, dugaan awal mengarah pada kemungkinan kerusakan teknis, meskipun penyelidikan lebih lanjut masih berlangsung. Kejadian ini menyoroti risiko yang melekat dalam kegiatan kampanye politik di wilayah yang memiliki infrastruktur transportasi laut terbatas.
Benny Laos dikenal sebagai figur yang sangat populer di Maluku Utara, terutama di wilayah kepulauan. Kematian mendadaknya ini menjadi pukulan besar bagi pendukungnya, sekaligus mengubah peta politik di daerah tersebut.
Baca Juga: Petugas Wanita KPU Jadi Korban Pemukulan Oknum Polisi, Ancaman Laporan ke Propam Mencuat!
Di masa-masa seperti ini, Anda bisa merasakan betapa rapuhnya keseharian dalam dunia politik yang sarat akan dinamika dan risiko. Bahkan, kegiatan kampanye yang semestinya damai dan terencana dengan baik bisa berakhir dengan bencana yang tak terduga.
Tragedi ini memperlihatkan sisi lain dari kampanye politik yang jarang dibahas—bagaimana keselamatan calon dan timnya kadang diabaikan atau minim perhatian. Pemakaian moda transportasi yang kurang aman dalam kampanye di wilayah kepulauan seperti Maluku Utara sering kali dianggap wajar, padahal risiko yang dihadapi sangat tinggi.