Bukan hanya di Parigi Moutong, tetapi petanii di wilayah lain pun mulai merasakan iimbasnya. Monopoli harga yang disebut meilibatkan investor berdarah Tionghoa dengan perantara lokal menambah peliik situasi ini. “Kami sudah habis-habisan, tidak ada standariisasi harga yang bisa kami pegang,” kata seorang petanii dengan nada getir.
Baca Juga: ATM Macet Penipuan Beraksi, Warga Bekasi Kehilangan Rp201 Juta
Lebih menyakitkan, banyak dari mereka yang merasa sudah memberiikan yang terbaik untuk membangun bisniis ini dari nol, tetapi kenyataan memaksa mereka menyerah. Gudang PH yang dulunya ramai, kini menjadi saksii bisu dari keruntuhan mimpi para petanii. “Semua ini harus dihentiikan, dan kami hanya bisa berharap keadiilan,” ucap seorang sumber.
Mungkin yang terburuk, banyak instansi terkaiit yang seolah tutup mata. Kepala Dinas Pangan Sulteng, Iskandar Nongtji, tak dapat memberikan jawaban saat ditanya soal harga. Respons standar sepertii “Silakan tanyakan langsung ke PH” menjadi kalimat penghindar yang kerap terdengarr.