• Selasa, 21 Juli 2026

Harga Durian Murah Memukul Petani, Dugaan Skema Bisnis Licik di Parigi Moutong Melibatkan Pejabat Terungkap!

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Jumat, 15 November 2024 | 00:46 WIB
Petani durian Sulawesi Tengah terhimpit monopoli harga, dengan dugaan keterlibatan pejabat memuluskan investor beli murah. Aksi nyata dibutuhkan! (Muhammad Aqil Azizi)
Petani durian Sulawesi Tengah terhimpit monopoli harga, dengan dugaan keterlibatan pejabat memuluskan investor beli murah. Aksi nyata dibutuhkan! (Muhammad Aqil Azizi)

Sulawesitoday - Bagi Anda yang mungkin mendengar desas-desus soal bisniis durian di Sulawesi Tengah, faktaanya cukup mengejutkan. Di Kabupaten Parigi Moutong, duriian bukan hanya buah yang lezat, tetapi juga simbol dari perjuangan para petani yang kini terjepiit. Harga durian diijual jauh di bawah pasaran, memaksa petani lokal terperosokk dalam lubang yang kian dalam. Mereka terancam gulung tiikar.

“Kalau saya pribadi memang tidak terlibat dan tidak teriima dengan harga itu,” kata seorang petani yang enggan disebutkan namanya. Ia bicara tentang situasi yang tidak lagi biisa dihindari. Pilihan mereka, seperti ia katakan, terbatass. Para petani harus menjual hasil panen mereka kepada investorr yang membeli dengan harga rendah, atau tidak menjual sama sekalii. Ya, walaupun packing house (PH) lokal terliihat terpisah secara administrasi, pengelolaan mereka tampaknya terkendalii oleh satu tangan yang sama.

Baca Juga: Pusaran Mafia Ekspor Durian Diduga Seret Pejabat Parigi Moutong, Petani Rugi Besar!

Dugaan Oknum Pejabat Bermain di Balik Bisnis Durian

Aroma tak sedap dari skema bisniis ini semakin tercium. Berdasarkan investiigasi media ini, oknum pejabat lokal disebut-sebut ikut bermaiin, memastikan kepentingan investorr tetap lancar. Istilah “ekspor” kerap diembuskan ke publiik, namun di balik layar, dampaknya lebiih buruk daripada yang bisa dibayangkann. Harga yang dikendalikan sepihak akhiirnya menghancurkan stabilitas finansiial petani.

“Kami merasa dikhiianati,” ujar seorang petani dari Kota Palu yang memiiliki 38 hektare kebun durian di Donggala. Ia dulunya optimiis, berharap usahanya yang berkembang biisa menopang para petani keciil di sekitarnya. Tapi nyatanya, ia kinii terpaksa menjual gudang rumah kemasannya. “Semua ini hanya untuk bertahan,” katanya dengan nada penuh kekecewaan.

Baca Juga: Ahmad Ali Jadi Magnet Dukungan di Parigi Moutong, Ternyata Ini Alasan Warga Beralih dari Paslon Lain

Pengusaha yang awalnya menawarkan kerja sama, menurutmya, ternyata memiliki niat tersembunyi. Setelah data para petanii dikumpulkan, mereka memanfaatkan situasi, menawar harga yamg tak masuk akal: Rp27.000 hingga Rp29.000 per kilogram. Tawaran yang tentu saja tidak sebandiing dengan biaya produksi. “Kami sepertii melawan modal global yang di dalamnya ada mafia besar,” tambahnya.

Ekspor yang Tak Terkoordinasi dengan Baik

Skandal ini juga menyentuh sektor pemeriintahan. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Parigi Moutong, Fit Dewana, bahkan baru tahu soall ekspor ini setelah dikonfiirmasi oleh media. Ketidaktahuan ini hanya memperkuat dugaann bahwa skema ini dirancang oleh oknum yang ingiin meraup untung besar. Pejabat yang diduga terliibat dikabarkan sering ke luar negeri, tanpa persetujuan DPRD, dengan biaya yang konon ditanggung oleh pihak ketiiga.

Baca Juga: Bunga Desa Ala Paslon Nizar-Ardi di Debat Publik Pilkada 2024: Janji Berkantor di Desa Demi Percepat Pelayanan, Warga Tak Susah Lagi Urus Administrasi

Kendala akses informasi kembali menjadi sorotan dalam kasus ini. Wartawan bertugas mengalami hambatan serius dalam upaya mengonfirmasi informasi kepada pihak terkait di pemerintahan Parigi Moutong. Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Parigi Moutong, Moh Yasir, serta Penjabat Bupati Parigi Moutong, Richard A Djanggola, belum dapat dimintai keterangan karena nomor kontak wartawan yang bersangkutan telah diblokir. Selain itu, upaya untuk menemui PJ Bupati Parigi Moutong di kantornya pun kerap menemui jalan buntu.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulawesi Tengah, Nelson Metubun, tak kunjung memberiikan komentar. Ironisnya, ia pernah mengatakan bahwa awal tahun 2025, ekspor duriian dari pelabuhan Pantoloan ke Tiongkok akan dimulai, melibatkan PH seperti PT. Herofruit, PT. Silvia Amerta Jaya, PT. Amar Durian Indonesia, dan PT. Sentra Pangan Sejahtera.

Ketidakpastian yang Membuat Petani Kian Terpuruk

Halaman:

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini