pemerintah

MBG Mulai Jalan di Parigi Moutong, Janji Negara yang Diolah di Dapur-Dapur Lokal

Rabu, 21 Mei 2025 | 13:41 WIB
Program MBG di Parimo bukan sekadar bagi-bagi makanan. Ia jadi tumpuan harapan, dari urusan gizi hingga cita-cita besar Indonesia Emas.

Sulawesitoday - Di tengah deret angka stunting dan gelombang target pembangunan nasional, Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong memutuskan untuk melawan dengan cara sederhana: mengisi piring anak-anak. Tapi jangan salah. Yang dimasukkan bukan sekadar nasi dan lauk, melainkan harapan.

Bappelitbangda Parigi Moutong, melalui Bidang Sosial dan Budaya, menjadikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu ujung tombak pembangunan daerah. Kepala Bidang Sosbud, Intje Pina, menyebut MBG bukan sekadar perintah pusat yang turun dari langit. "Ini prioritas. Bukan cuma karena diminta Jakarta, tapi karena kami tahu betul masalahnya ada di sini," ujarnya saat ditemui di kantornya, Selasa, 20 Mei.

Program ini diluncurkan awal Januari 2025, di bawah payung hukum Perpres Nomor 83 Tahun 2024. Targetnya ambisius: menjangkau  banyak penerima di seluruh Indonesia. Di Parimo, angkanya mungkin tak sebesar itu, tapi bagi anak-anak PAUD, santri di pesantren kecil, atau ibu muda yang harus memilih antara beli sayur atau susu, ini bisa jadi penentu hidup.

“Yang kami kejar bukan cuma angka. Tapi anak-anak yang tidak lagi lesu di sekolah, ibu hamil yang tak lagi pusing mikirin makan hari ini,” tambah Intje.

MBG menyasar kelompok rentan: anak sekolah dari TK hingga SMA, balita, ibu menyusui, hingga santri. Makanan disediakan dari bahan lokal—ikan dari laut sendiri, sayur dari pekarangan tetangga, telur dari kandang desa. Tak hanya soal gizi, tapi soal keberpihakan. Ekonomi lokal pun ikut berputar.

Baca Juga: 23 Kecamatan Dievaluasi, Bappelitbangda Parimo Genjot Implementasi Program Nasional

“Kadang kita sibuk bangun gedung tinggi, tapi lupa isi piring anak-anak. Padahal dari situlah pendidikan dimulai,” ucap seorang guru SD di Mepanga, yang tak ingin disebut namanya.

Harapannya, MBG menjadi lebih dari sekadar proyek. Ia harus menjadi gerakan. Karena tak ada artinya bicara SDM unggul, bila anak-anak tumbuh dengan perut kosong dan pikiran lambat. Indonesia Emas 2045? Mungkin bisa dimulai dari dapur sekolah hari ini.

Tags

Terkini