Sulawesitoday - Di balik peta besar pembangunan nasional, ada aktor-aktor sunyi yang tak tampak di spanduk peresmian. Salah satunya: Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Parigi Moutong.
Namanya panjang, nyaris seperti nama pejabat era kolonial. Tapi fungsinya lumayan krusial: menyambungkan urat nadi pusat ke daerah. Dan di sinilah peran itu dimainkan, dari sebuah kantor di jantung Parigi.
“Bappelitbangda ini semacam penerjemah niat baik pusat agar tak jadi gagal paham di daerah,” ujar Intje Pina, Kepala Bidang Sosial Budaya, Selasa (20/5). Ucapan itu meluncur ringan, tapi jika diurai, menyimpan beban besar: memastikan program prioritas nasional benar-benar terasa di rumah-rumah warga.
Program itu bukan satu-dua. Mulai dari penurunan angka stunting—yang konon jadi wajah gizi kita—hingga yang terbaru, Makan Bergizi Gratis (MBG). Program terakhir ini, kata Intje, butuh data lengkap. Dan data itu tak turun dari langit.
“Kami sedang kumpulkan data lapangannya. Nanti akan dipaparkan agar ada peta jelas ke depan,” katanya.
Untuk menjalankan semua ini, Bappelitbangda tidak bekerja sendiri. Ada 11 OPD yang jadi mitra tetap: mulai dari Dinas Pendidikan, Kesehatan, sampai ke Sekretariat Daerah. Tak semuanya tentu berjalan mulus. Tapi upaya menggerakkan 11 kepala berbeda arah untuk satu tujuan, tak ubahnya seperti menggiring kawanan bebek di jalan raya—butuh kesabaran, juga strategi.
Setidaknya 23 kecamatan di Parimo kini jadi wilayah pengawasan dan evaluasi. Prosesnya: periksa dokumen, cek lapangan, beri masukan. Kedengarannya birokratis. Tapi seperti kata Intje, “Kalau tak diawasi, rencana bisa jadi pajangan.”
Kini, sorotan tertuju ke MBG. Program yang—jika benar dijalankan dengan serius—bisa menjadi revolusi kecil di kantin sekolah dan dapur-dapur warga.
Baca Juga: Parigi Moutong All Out di Penilaian Aksi Konvergensi Stunting Sulteng: Tantangan Pertahankan Juara 1
Tapi seperti banyak program lainnya, kuncinya ada pada eksekusi, bukan janji.
Dan kalau boleh jujur, Bappelitbangda bukan tokoh utama dalam cerita ini. Tapi tanpa mereka, cerita itu bisa gagal ditulis.
Artikel Terkait
Dari Clurit hingga Sabu, 43 Preman di Sulteng Dibekuk dalam 18 Hari Operasi Pekat Tinombala
Yayasan Fajrul Islam, Satu-satunya KBIH Bersertifikat Siap Kawal 45 Jemaah Haji Parigi Moutong
Harkitnas ke-117: Semangat Gotong-Royong Dorong Pembentukan 80.000 Koperasi Desa
Ketahanan Pangan Hingga UMKM, Koperasi Merah Putih Jadi Solusi Ekonomi Lokal Parigi Moutong
197 Calon Jemaah Haji Parigi Moutong Dilepas dengan Harapan Raih Haji Mabrur