Sulawesitoday - Stunting bukan sekadar urusan tinggi badan. Ia adalah alarm senyap yang berdentang di balik senyum anak-anak Indonesia. Satu dari lima balita tumbuh dengan tubuh kerdil bukan karena gen, tapi karena gizi yang tak cukup—dan perhatian yang lebih tak cukup lagi.
Mari mulai dari awal: 1.000 hari pertama kehidupan. Masa paling krusial dalam hidup manusia. Itu adalah "jendela emas"—saat otak dan tubuh bertumbuh cepat. Tapi di banyak pelosok negeri, jendela itu malah tertutup. Digembok oleh kemiskinan, air kotor, dan menu harian yang lebih sering hanya nasi dan teh manis.
Secara medis dan hukum, stunting adalah akibat kekurangan gizi kronis. Tapi faktanya lebih rumit. Ia berdampingan dengan rendahnya literasi gizi, akses kesehatan yang compang-camping, dan mitos warisan yang masih dianggap kebenaran.
Namun, tidak semua tinggal diam. Di Parigi Moutong, misalnya, roda intervensi mulai bergerak. Menurut Kepala Bappelitbangda Parimo, Irwan, S.K.M., M.Kes., “Setiap unsur mempresentasikan capaian program mulai dari pendataan balita, edukasi gizi, hingga pemantauan tumbuh kembang anak.” Irwan menyebut delapan aksi konvergensi sebagai kerangka kerja utama. “Dari promosi pangan lokal hingga sanitasi—semuanya kami sinergikan,” ujarnya, dalam sesi penilaian di ruang kerja Bupati Parimo.
Kedengarannya teknis? Mungkin. Tapi yang coba dibangun adalah ekosistem. Bukan proyek karpet merah menjelang penilaian, tapi perubahan perilaku yang menempel di dapur rumah tangga dan pikiran orang tua.
Persoalannya: apakah cukup? Apakah program-program itu menyentuh hingga ke kampung yang listriknya belum stabil? Karena jika tidak, kita berisiko panen generasi yang besar jumlahnya tapi ringkih potensinya.
Baca Juga: Anak Pendek Bukan Sekadar Genetik: Parimo Hadapi Stunting dengan Program Seribu Hari
Stunting itu luka diam. Ia tak berdarah, tapi ia menggerus perlahan. Kita tidak bisa mengobatinya dengan sekadar seminar. Kita perlu lebih dari itu: gizi yang terjangkau, edukasi yang tidak menggurui, dan kehadiran negara yang tidak hanya datang saat lomba kader.
Kalau Indonesia ingin benar-benar jadi negara besar pada 2045, kita tidak bisa membiarkan generasi ini tumbuh pendek harapan—hanya karena kita tak cukup cepat menyuapi masa depannya.