Sulawesitoday - Stunting bukan hanya soal tubuh pendek. Itu hanya gejala luar. Masalah sesungguhnya tersembunyi lebih dalam—di dalam otak, di dalam sel-sel yang seharusnya berkembang pesat, tapi tertahan karena gizi yang tak pernah cukup.
Anak stunting memang bisa tetap bersekolah, tersenyum, bahkan bermain seperti biasa. Tapi di ruang belajar, mereka sering kesulitan menangkap pelajaran. Konsentrasi pendek. Daya ingat lemah. Dan ini bukan soal malas. Ini soal potensi otak yang terganggu sejak awal.
Banyak penelitian sudah menjelaskan, anak yang mengalami stunting cenderung memiliki skor IQ yang lebih rendah dibandingkan anak seusianya yang tumbuh normal. Artinya, mereka akan kesulitan mengikuti pelajaran, lebih mudah tertinggal, dan pada akhirnya—berpeluang lebih kecil untuk keluar dari lingkar kemiskinan.
Dan ini bukan efek jangka pendek. Stunting mengintai hingga dewasa. Ketika mereka masuk dunia kerja, produktivitasnya pun lebih rendah. Daya tahan tubuh mereka juga lemah, lebih rentan terhadap penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi. Negara akhirnya menanggung biaya ganda: kehilangan tenaga kerja berkualitas, dan beban kesehatan yang meningkat.
Sayangnya, kesadaran soal ini belum benar-benar merata. Masih banyak yang menganggap stunting “biasa saja”. Asalkan anak bisa jalan dan bicara, dianggap cukup. Padahal, ada generasi yang tengah dikorbankan secara perlahan.
Itulah mengapa intervensi sejak dini sangat krusial. Di Parigi Moutong, pemerintah daerah sudah mulai menjalankan delapan aksi konvergensi sebagai kerangka penanganan stunting secara menyeluruh. Kepala Bappelitbangda Parimo, Irwan, S.K.M., M.Kes., menjelaskan bahwa tiap unsur mempresentasikan capaian program—mulai dari pendataan balita, edukasi gizi, hingga pemantauan tumbuh kembang anak.
“Delapan aksi ini menjadi kerangka kami—dari promosi pangan lokal hingga sanitasi—semuanya kami sinergikan,” ujar Irwan usai sesi penilaian di ruang kerja Bupati Parimo.
Baca Juga: Pola Asuh dan Gizi, Kunci Utama Pencegahan Stunting Sejak Dini di Parigi Moutong
Ini kerja sunyi. Tidak selalu viral. Tapi jika dilakukan konsisten, dampaknya bisa menyelamatkan masa depan. Karena bangsa yang cerdas tidak lahir dari balita yang lapar. Dan produktivitas tidak tumbuh dari tubuh yang lemah.
Kita sedang bertaruh pada generasi berikutnya. Dan stunting, kalau tidak dicegah hari ini, akan menjadi hutang sosial yang mahal di masa depan.