pemerintah

Naapa Vatu Mopadampaka Sulawesi Tengah Nu Kokoh? De’a Cuma Infrastruktur, Tapi Nilai Adat Kaili

Senin, 21 Juli 2025 | 22:45 WIB
Gubernur Anwar Hafid serukan integrasi budaya Kaili sebagai kunci pembangunan Sulteng, menegaskan kearifan lokal lebih kuat dari aturan pemerintah.

Sulawesitoday - Naapa vatu mopadampaka Sulawesi Tengah nu kuat? Jawabanna, menurut Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. H. Anwar Hafid, M.Si, de’a cuma mopakai infrastruktur, tapi nilai budaya Kaili. Vatu ini, menurutna, mopokokuaa lebih dari besi do beton, do doti perisai dari gempuran globalisasi.

Pernyataan ini dilontarkanna waktu ia molaa ri Kongres Posintomu Todea (Libu Mbaso) Adat Budaya Kaili, ri Hotel Palu Golden, ri uatu Sabtu (19 Juli 2025). Ini jadi panggung i Gubernur mopovure komitmen mopokua kearifan lokal. Komitmen ini mopovuaa penghargaan:

Ia dianugerahi Gelar Adat Tomaoge Tomanasa Ri Tanah Kaili ri Forum Pemuda Kaili Bangkit (FPKB). Tanda monggava atas vuaa mopadampaka budaya lokal.

De’a cuma kata doko. I Gubernur Anwar mopokua itu ri lirik do nada: ia mencipta do mo’oto dua lagu Kaili: “Himo Yaku” do “Vula Belo.” Lagu ini de’a cuma melodi, tapi cerminan filosofi:

“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”

Ri pidatonna, Anwar Hafid moparindomo semua pihak mopadampaka kembali mopokua nilai adat do kearifan Kaili. Ia topotua:

"Budaya ini de’a hiasan doko, tapi vatu utama mopadampaka banua.”

Ia moorasa, contona Jepang waktu mopadampaka ulang sesudah perang, itu karena nilai lokal Bushido. Sama halnya dengan Sulawesi Tengah, bisa mopakai nilai budaya Kaili sebagai benteng erosi globalisasi.

“Nilai adat budaya ini penting bagi kita semua,” topotua Gubernur Anwar.

Ia tamba, wanu adat ri Lindu, Kabupaten Sigi, bisa mopaliara Taman Nasional Lore Lindu. Doti karena givu (sanksi adat) lebih kuat dari aturan pemerintah.

"Adat itu, kalau dia tegak, lebih kuat dari aturan pemerintah,” topotua na.

Oleh karena itu, ri RPJMD Provinsi Sulteng 2025–2029, pamarenta mopokua program mopondampaka lembaga adat do rumah adat. Tujuanna supaya simbol budaya Kaili de’a cuma dipajang, tapi aktif do jadi kebanggaan wanu.

Kongres ini mo’adami Wakil Gubernur dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes, Ketua TP-PKK Sulteng Ny. Sry Nirwanti Bahasoan, do pejabat Pemprov Sulteng.

Mereka jadi saksi: Pembangunan Sulawesi Tengah de’a lengkap kalau budaya Kaili de’a ikut serta.

Halaman:

Tags

Terkini