Faktor cuaca kering memperparah situasi. Musim kemarau berkepanjangan membuat bahan bangunan mudah terbakar. Sumur-sumur warga surut. Air sulit didapat untuk memadamkan.
Minimnya hidran dan peralatan pemadam di desa-desa terpencil juga jadi masalah. Ketika api membesar, warga hanya bisa menonton. Menunggu damkar dari kota yang jaraknya puluhan kilometer.
Langkah Pemulihan Jangka Panjang
Bantuan logistik baru langkah awal. BPBD Parigi Moutong sudah merencanakan tahap berikutnya. Pemulihan jangka panjang butuh strategi matang.
Pemerintah daerah berkomitmen membangun hunian sementara lebih layak. Bukan sekadar terpal dan tenda darurat. Material semi permanen sedang dianggarkan.
Program bedah rumah akan dipercepat. Prioritas diberikan kepada korban kebakaran. Alokasi anggaran dari dana tidak terduga sedang diproses.
"Kami tidak akan biarkan mereka tinggal di tenda selamanya," janji Bupati Parigi Moutong dalam keterangan tertulis. "Rehabilitasi adalah prioritas."
Selain infrastruktur, aspek psikososial juga diperhatikan. Trauma pascakebakaran bukan main-main. Anak-anak yang menyaksikan rumah terbakar butuh pendampingan.
Tim konselor dari Dinas Sosial akan turun. Mereka akan memberikan terapi sederhana. Membantu korban bangkit dari keterpurukan.
Imbauan Pencegahan untuk Masyarakat
Kejadian ini jadi pelajaran berharga. BPBD mengeluarkan imbauan resmi. Pencegahan lebih baik dari penanganan.
Masyarakat diminta rajin cek instalasi listrik. Kabel-kabel usang harus segera diganti. Jangan gunakan sambungan terlalu banyak dalam satu stopkontak.
Kompor dan sumber api lain tidak boleh ditinggalkan. Pastikan benar-benar mati sebelum tidur. Jauhkan bahan mudah terbakar dari dapur.
"Waspada itu kunci," tegas Kepala BPBD. "Jangan tunggu musibah terjadi."
Pemerintah desa diminta membentuk regu pemadam kebakaran sederhana. Minimal ada beberapa ember dan selang air. Pelatihan dasar pemadaman juga harus diberikan.