• Kamis, 4 Juni 2026

Liverpool Hancurkan Dominasi Guardiola, Liverpool Ungkap Titik Lemah City

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Senin, 2 Desember 2024 | 09:00 WIB
Liverpool mengungkap kelemahan City yang mengejutkan: strategi usang, pilihan pemain kacau, dan faktor usia. Era Guardiola terancam.
Liverpool mengungkap kelemahan City yang mengejutkan: strategi usang, pilihan pemain kacau, dan faktor usia. Era Guardiola terancam.

Sulawesitoday - Ada sesuatu yang berubah. Manchester City, yang selama bertahun-tahun dipandang sebagai tim paling tangguh di Inggris—bahkan dunia, kini terlihat goyah. Kekalahan 2-0 dari Liverpool di Anfield adalah potret nyata dari keruntuhan ini.

Bukan hanya hasilnya, tetapi caranya. Tim yang dulu mendominasi, kini tampak kehilangan arah. Bahkan Guardiola, biasanya penuh energi di tepi lapangan, kali ini terlihat pasrah. “Ini berbeda dari sebelumnya,” ungkap seorang pengamat.

1. Strategi yang Kehilangan Sentuhan Ajaib

Apa yang pernah menjadi keunggulan kini menjadi kelemahan. Liverpool bermain dengan kecepatan yang ganas, memanfaatkan setiap celah di lini tengah City. Dominik Szoboszlai, pemain yang seperti melayang di ruang kosong, menjadi mimpi buruk bagi pertahanan Guardiola. Guardiola sendiri mengakui, “Kami rapuh. Kami lemah.” Kalimat itu, mungkin, adalah pengakuan paling jujur sepanjang karirnya.

City tidak lagi memiliki identitas yang jelas. Pola permainan mereka kini lebih mirip formasi klasik 4-4-2 Inggris yang dulu mereka lewati dengan mudah. Pemain seperti Kyle Walker dan Nathan Aké tidak mampu menahan serangan cepat Liverpool. Cody Gakpo, bahkan sebelum mencetak gol, sudah menghancurkan struktur pertahanan mereka. Ini bukan soal margin kekalahan, tetapi metode yang dipilih untuk melawan.

Baca Juga: Klasemen Manchester United di Liga Inggris Usai Hajar Everton 4-0

2. Pilihan Pemain yang Tidak Konsisten

Ada pola pikir kacau dalam seleksi Guardiola. Phil Foden, yang biasanya menjadi bintang, terlihat frustrasi sepanjang pertandingan. Guardiola memutuskan memainkan Rico Lewis untuk menggantikan Walker di sayap kanan, tapi itu malah memperparah masalah. Nathan Aké, meski tangguh, tidak mampu melawan kelincahan Mohamed Salah. “Dia membuat kami terlihat biasa saja,” kata seorang penggemar City yang kecewa.

Lini serang City juga kurang menggigit. Raheem Sterling dan Leroy Sané yang dulu memberi ancaman dari sisi lapangan, kini digantikan oleh pemain seperti Matheus Nunes, yang lebih cocok bermain sebagai gelandang. Bahkan Jeremy Doku, yang memiliki kecepatan dan kreativitas, hanya diturunkan belakangan, ketika permainan sudah hampir habis.

3. Faktor Usia dan Rekrutmen yang Gagal

City terlihat menua. Pemain seperti Bernardo Silva dan Ilkay Gündogan mungkin masih memiliki kualitas, tetapi kecepatan mereka tidak lagi cukup untuk menghadapi lawan seperti Liverpool. Selama 18 bulan terakhir, perekrutan City juga tidak menghasilkan bintang yang bisa langsung membuat perbedaan. Josko Gvardiol, misalnya, tidak tampil sesuai ekspektasi di pertandingan besar seperti ini.

Di sisi lain, Liverpool menunjukkan keberanian luar biasa. Mereka menyerang dengan intensitas tinggi, sesuatu yang jarang dilihat dari tim lain saat melawan City. Penalti Mohamed Salah memastikan kemenangan, tetapi lebih dari itu, ini adalah pernyataan: Liverpool adalah tim terbaik di Inggris saat ini.

Kemerosotan City, yang tiba-tiba dan spektakuler, menjadi pelajaran berharga bagi semua tim besar. Keunggulan tidak datang dari kejayaan masa lalu, tetapi dari kemampuan untuk terus beradaptasi dan berkembang.

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini