Sulawesitoday - Drama internal kembali menghantui Manchester City. Ketika Kevin De Bruyne kembali dari cedera panjang, harapan tinggi menyelimuti Etihad Stadium. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Ketegangan yang mencuat antara De Bruyne dan manajer Pep Guardiola menimbulkan pertanyaan serius tentang masa depan klub.
Banyak yang menganggap De Bruyne sebagai otak permainan City, seorang maestro yang sulit digantikan. Tapi sejak pulih dari cedera hamstring, gelandang berusia 33 tahun ini hanya mendapatkan waktu bermain minim—bahkan hanya 12 menit saat melawan Liverpool. Fakta ini memicu dugaan bahwa hubungan antara De Bruyne dan Guardiola sedang tidak harmonis.
Gary Lineker, mantan bintang sepak bola, secara terbuka menyebut keputusan Guardiola untuk jarang menurunkan De Bruyne sebagai hal yang "mencurigakan." Dalam pandangan Lineker, "Ada sesuatu yang salah. De Bruyne tidak mungkin diabaikan tanpa alasan jelas." Micah Richards, analis lainnya, menambahkan bahwa keputusan tersebut memperburuk performa City yang sudah cukup kacau.
Masalah Kontrak: Retakan yang Kian Dalam
Masalah tidak berhenti di situ. Kontrak De Bruyne yang berakhir musim panas mendatang kini menjadi duri lain bagi Manchester City. Hingga kini, De Bruyne dilaporkan menunda pembicaraan perpanjangan kontrak. Situasi ini memunculkan spekulasi bahwa ia mungkin mempertimbangkan tawaran menggiurkan dari klub-klub Saudi Arabia.
Baca Juga: Lini Tengah Runtuh, Krisis Terbesar Manchester City Era Guardiola
Ketidakpastian ini, tak diragukan lagi, memberikan tekanan tambahan pada Guardiola. Bagaimana mungkin ia merancang strategi jangka panjang ketika salah satu pemain kuncinya berada dalam ketidakjelasan?
Sumber internal menyebutkan bahwa De Bruyne sebenarnya merasa "nyaman" dengan situasinya di City, tetapi ketegangan yang muncul dapat mengubah segalanya. Dengan tim dalam performa buruk—tujuh pertandingan tanpa kemenangan—manajemen klub harus segera mencari solusi sebelum dampaknya semakin luas.
Dampak pada Performa Tim
Kisruh internal ini tidak hanya memengaruhi hubungan personal. Manchester City kini tertinggal jauh dalam perburuan gelar Liga Inggris, sebuah situasi yang sangat tidak biasa bagi tim sekelas mereka. Absennya Rodri sebagai jangkar di lini tengah, ditambah minimnya kontribusi De Bruyne, jelas membuat tim kehilangan keseimbangan.
Beberapa analis berpendapat bahwa keberhasilan Guardiola di masa lalu sering kali bergantung pada kemampuan De Bruyne untuk menjadi katalis. Tanpa harmoni di antara keduanya, City terancam kehilangan identitas yang telah mereka bangun bertahun-tahun.
Pertanyaan besar pun muncul: Apakah Guardiola mampu memulihkan hubungan ini, ataukah musim ini akan menjadi yang terakhir bagi De Bruyne di Etihad?
Artikel Terkait
Prediksi Mengejutkan! Legenda MU Pilih Liverpool Kalahkan City dalam Perebutan Gelar Liga Inggris
Dominasi Tak Terbantahkan di Liga Inggris, Haaland Buru Rekor 34 Gol Thierry Henry dan Alan Shearer
Dua Gol dan Dominasi Total, Liverpool Mengirim Manchester City ke Posisi Lima Klasemen Liga Inggris
Head to Head Panas: Arsenal vs Manchester United, Perebutan Poin Krusial di Liga Inggris
Panggung Duel di Liga Inggris, Statistik dan Pemain Kunci Manchester City vs Nottingham Forest