ragam

Gunung Erebus di Antartika Semburkan Debu Emas Setiap Hari, Harta Karun di Bumi Paling Selatan

Jumat, 4 Oktober 2024 | 05:59 WIB
Gunung Erebus semburkan debu emas yang langka di Antartika, menjadi fenomena geologi yang menarik perhatian ilmuwan. #GunungErebus #EmasAntartika #Vulkanik (Dwi Rahayu Putri)

Sulawesitoday - Gunung Erebus, gunung berapi aktif di Antartika, mungkin tidak begitu terkenal dibandingkan gunung api lainnya, tetapi fenomenanya sungguh luar biasa. Gunung ini, dengan ketinggian 3.794 meter, terletak di Pulau Ross dan setiap harinya memuntahkan debu emas ke udara. Para ilmuwan telah menghitung bahwa sekitar 80 gram emas berharga senilai sekitar Rp91 juta terlepas ke atmosfer setiap hari.

Debu emas ini begitu kecil, hanya sekitar 20 mikrometer, sehingga mudah tersebar jauh, bahkan hingga 1.000 kilometer dari sumbernya.

Yang menarik, Erebus tidak hanya dikenal sebagai gunung yang berapi-api, tetapi juga sebagai harta karun geologi. Para ilmuwan mengamati fenomena ini dengan hati-hati melalui citra satelit. Pada puncaknya yang sering terlihat sedikit berwarna merah, terdapat danau lava yang telah aktif setidaknya sejak 1972.

Baca Juga: Permata Tanzanite, Kilauan Langka yang Hanya Bisa Kamu Temukan di Gunung Kilimanjaro

Danau lava ini sangat panas dan terus-menerus mengeluarkan gas, uap, dan bom vulkanik—bongkahan batu besar yang mencair sebagian saat dilemparkan ke udara.

Penelitian Erebus memberikan dampak penting bagi dunia ilmiah. Mengamati kristal emas dalam gas vulkanik membuka peluang bagi pemahaman lebih dalam tentang fenomena alam dan potensi mineral di Antartika. Para ahli geologi dan vulkanologi dari seluruh dunia kini berfokus pada penelitian ini, untuk mempelajari lebih lanjut bagaimana dan mengapa proses ini terjadi.

Namun, pertanyaan yang menarik banyak perhatian adalah: bagaimana mungkin emas, elemen berharga yang biasanya terkandung dalam batuan padat, bisa terlepas ke udara melalui letusan gunung berapi?

Salah satu ahli geologi, yang menolak disebutkan namanya, menjelaskan: "Kami belum sepenuhnya memahami mekanisme pasti di balik fenomena ini. Namun, ini jelas merupakan peristiwa yang sangat langka dan bisa membuka wawasan baru tentang komposisi mineral di Antartika."

Erebus menjadi lebih dari sekadar fenomena geologis; ia adalah jendela menuju pengetahuan baru tentang sumber daya alam di wilayah terdingin dan paling terpencil di Bumi.

Meski begitu, Erebus tidak bisa dilepaskan dari sejarah tragisnya. Pada 28 November 1979, pesawat Air New Zealand 901 menabrak sisi gunung, menewaskan 257 orang. Insiden tersebut mengingatkan dunia betapa berbahayanya gunung ini, meskipun keindahan dan keunikannya memukau para ilmuwan.

Erebus, dengan debu emasnya, adalah simbol dari kekuatan dan kekayaan yang ada di wilayah paling terpencil di dunia. Fenomena ini akan terus memancing rasa ingin tahu para ilmuwan dan penjelajah, dan mungkin suatu hari nanti, bisa membuka rahasia lain yang belum terungkap dari dalam perut Bumi.

Tags

Terkini

Perahu Penjaga Dapur di Laut Lebo

Sabtu, 16 Mei 2026 | 18:05 WIB

44 Negara Tanpa Laut, Bagaimana Mereka Bertahan?

Selasa, 28 Januari 2025 | 20:35 WIB