• Selasa, 21 Juli 2026

Keajaiban Alam dari Sumatra, Fakta Mengejutkan Tentang Bunga Bangkai Titan Arum

.
Amirullah, Sulawesi Today
- Kamis, 21 November 2024 | 06:57 WIB
Bunga bangkai, raksasa dari Sumatra, mekar hanya setiap 7–10 tahun dengan aroma busuk khas. Fenomena ini membawa pesan penting soal konservasi. (Amirulah)
Bunga bangkai, raksasa dari Sumatra, mekar hanya setiap 7–10 tahun dengan aroma busuk khas. Fenomena ini membawa pesan penting soal konservasi. (Amirulah)

Sulawesitoday - Bunga bangkai, atau Amorphophallus titanum, adalah salah satu fenomena alam yang tidak hanya menakjubkan tetapi juga sulit dilupakan—secara harfiah. Bunga ini dikenal karena ukurannya yang sangat besar dan aromanya yang, jika kita jujur, sangat menyengat.

Bau busuk yang menyerupai bangkai inilah yang menjadi daya tarik sekaligus "peringatan" bagi siapa saja yang ingin menyaksikannya dari dekat.

Baca Juga: Kasus Mary Jane Veloso, Simbol Perjuangan Melawan Perdagangan Manusia di Asia Tenggara

Dengan tinggi yang bisa mencapai 3 meter, bunga ini lebih mirip seperti mahkota raksasa daripada bunga biasa. Warnanya yang merah marun pada kelopak dengan bagian tengah kuning mencolok menciptakan pemandangan luar biasa, meskipun bagi banyak orang aroma busuk yang dihasilkannya sering menjadi fokus perhatian.

Aroma ini, ternyata, bukan sekadar "salah desain". Ia memainkan peran penting dalam ekosistem: memikat kumbang dan lalat untuk membantu proses penyerbukannya. Para ilmuwan menemukan bahwa senyawa seperti dimetil trisulfida dan indol dalam aroma tersebut menyerupai bahan kimia yang muncul saat proses pembusukan organik berlangsung.

Baca Juga: Kontroversi Raden Brotoseno, Karier yang Redup di Tengah Bayang-Bayang Korupsi

Siklus Hidup yang Menguji Kesabaran

Jika Anda pernah berharap bisa menyaksikan bunga bangkai bermekaran, bersiaplah untuk menunggu dengan sabar. Siklus hidupnya bisa membuat Anda frustrasi—fase mekarnya hanya terjadi sekali dalam 7 hingga 10 tahun!

Saat itu pun, bunga hanya mekar selama 24 hingga 36 jam. Momen singkat ini adalah pertunjukan alam yang sangat dinanti, sehingga sering menarik wisatawan dan peneliti dari berbagai belahan dunia.

Baca Juga: Polisi Tangkap Pengecer Togel di Sigi, Dua Emak-Emak Terjerat Operasi Pekat Tinombala

Menariknya, ketika tidak dalam fase generatif, bunga ini terlihat seperti tanaman biasa. Daun dan batangnya tumbuh hingga 6 meter tinggi, sebelum akhirnya layu, menyisakan umbi besar yang menjadi "pusat penyimpanan energi" untuk siklus berikutnya.

Ketika kondisi lingkungan seperti kelembapan dan nutrisi memadai, barulah bunga ini muncul dari tanah, siap memukau—dan mungkin memuakkan—penonton.

Baca Juga: Polri Bongkar Lab Narkoba Senilai Rp 1,5 Triliun di Bali, Rencana Edarkan di Tahun Baru 2025 Digagalkan

Habitat dan Ancaman

Halaman:

Editor: Amirullah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Perahu Penjaga Dapur di Laut Lebo

Sabtu, 16 Mei 2026 | 18:05 WIB

44 Negara Tanpa Laut, Bagaimana Mereka Bertahan?

Selasa, 28 Januari 2025 | 20:35 WIB