Feature Sulawesitoday - Matahari jingga perlahan tenggelam menyentuh permukaan air laut di pinggiran Lebo, Parigi Moutong. Seorang lelaki tua tersenyum menenangkan seorang anak kecil yang terus memegangi ujung bajunya yang lusuh.
Anak kecil itu menangis kencang, enggan melepas lengan legam sang kakek yang bersiap melompat ke dalam perahu kayu. Aroma asin air laut berpadu dengan suara isak tangis yang memecah keheningan senja.
Dunia sang cucu seolah runtuh saat teman bermain terbaiknya di rumah harus pergi bekerja. Sang kakek terpaksa membelah ombak demi memastikan ada beras yang bisa dimasak esok pagi.
Lelaki paruh baya ini merupakan tulang punggung utama bagi kehidupan seluruh anggota keluarganya. Di tengah himpitan ekonomi, laut menjadi satu-satunya harapan untuk menyambung hidup.
Tangan keriput sang kakek dengan cekatan memeriksa mesin tempel kecil di buritan perahu. Mesin itu menjadi penyelamat tenaga tuanya agar tidak perlu lagi bersusah payah mendayung hingga ke tengah samudra.
Kotak bekal sederhana dan jeriken air minum sudah tertata rapi di dekat kemudi. Ia bersiap mengarungi malam yang dingin menuju pulau terdekat demi berburu ikan karang.
Tangis sang cucu akhirnya mereda, berganti tatapan nanar dari atas tanggul semen. Bocah kecil itu melambaikan tangan mungilnya saat mesin perahu mulai menderu memecah ombak.
Sang kakek membalas lambaian itu dengan tatapan penuh kehangatan sekaligus beban berat di pundak. Ada rasa berat meninggalkan sang cucu, namun urusan perut keluarga jauh lebih mendesak.
Uang lima puluh ribu rupiah sekarang seperti tidak ada artinya lagi saat dibawa belanja ke pasar. Harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi memaksa sang kakek harus tetap melaut meski raga sudah menua.
Lambaian tangan sang cucu terus mengiringi perahu yang bergerak semakin mengecil. Bocah itu berdiri terpaku sampai bayangan kakeknya benar-benar lenyap ditelan kegelapan malam.
Ikan batu khas karang dari pulau seberang kini menjadi tumpuan harapan bagi asap dapur mereka. Sang kakek rela menukar waktu bermain bersama cucu tercinta dengan dinginnya angin malam lautan.
Esok subuh, kepulangan perahu tua itu akan selalu dinanti dengan penuh rindu. Semoga laut Parigi Moutong berbaik hati memberikan rezeki yang cukup bagi mereka. (Rafii)
Baca Juga: Kompetensi yang Tak Berhenti di Pintu Hotel
Artikel Terkait
Gus Ipul Copot Dua Pejabat Kemensos Buntut Skandal Sepatu SR Mahal, Evaluasi Total Pengadaan Barang!
Polisi Tembak Mati Pencuri Motor yang Tewaskan Bripka Arya Supena
Propam Polda Sulteng Janji Tindaklanjuti Dugaan Praktik Monopoli BBM dan Beking Tambang Ilegal di Parigi Moutong
Berebut 19 Kursi Kepala Dinas Parigi Moutong, Bupati Erwin Burase Garansi Bebas Setoran
Petaka Sabtu Pagi di Elevated Road Palu, Pemotor Tewas Tabrakan Bus