• Jumat, 3 Juli 2026

Perahu Penjaga Dapur di Laut Lebo

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Sabtu, 16 Mei 2026 | 18:05 WIB
Kakek di Parigi Moutong rela membelah malam demi kepulan asap dapur, tinggalkan tawa sang cucu demi mencari sesuap nasi di tengah laut Lebo.
Kakek di Parigi Moutong rela membelah malam demi kepulan asap dapur, tinggalkan tawa sang cucu demi mencari sesuap nasi di tengah laut Lebo.

Feature Sulawesitoday - Matahari jingga perlahan tenggelam menyentuh permukaan air laut di pinggiran Lebo, Parigi Moutong. Seorang lelaki tua tersenyum menenangkan seorang anak kecil yang terus memegangi ujung bajunya yang lusuh.

Anak kecil itu menangis kencang, enggan melepas lengan legam sang kakek yang bersiap melompat ke dalam perahu kayu. Aroma asin air laut berpadu dengan suara isak tangis yang memecah keheningan senja.

Dunia sang cucu seolah runtuh saat teman bermain terbaiknya di rumah harus pergi bekerja. Sang kakek terpaksa membelah ombak demi memastikan ada beras yang bisa dimasak esok pagi.

Lelaki paruh baya ini merupakan tulang punggung utama bagi kehidupan seluruh anggota keluarganya. Di tengah himpitan ekonomi, laut menjadi satu-satunya harapan untuk menyambung hidup.

Tangan keriput sang kakek dengan cekatan memeriksa mesin tempel kecil di buritan perahu. Mesin itu menjadi penyelamat tenaga tuanya agar tidak perlu lagi bersusah payah mendayung hingga ke tengah samudra.

Kotak bekal sederhana dan jeriken air minum sudah tertata rapi di dekat kemudi. Ia bersiap mengarungi malam yang dingin menuju pulau terdekat demi berburu ikan karang.

Tangis sang cucu akhirnya mereda, berganti tatapan nanar dari atas tanggul semen. Bocah kecil itu melambaikan tangan mungilnya saat mesin perahu mulai menderu memecah ombak.

Sang kakek membalas lambaian itu dengan tatapan penuh kehangatan sekaligus beban berat di pundak. Ada rasa berat meninggalkan sang cucu, namun urusan perut keluarga jauh lebih mendesak.

Uang lima puluh ribu rupiah sekarang seperti tidak ada artinya lagi saat dibawa belanja ke pasar. Harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi memaksa sang kakek harus tetap melaut meski raga sudah menua.

Lambaian tangan sang cucu terus mengiringi perahu yang bergerak semakin mengecil. Bocah itu berdiri terpaku sampai bayangan kakeknya benar-benar lenyap ditelan kegelapan malam.

Ikan batu khas karang dari pulau seberang kini menjadi tumpuan harapan bagi asap dapur mereka. Sang kakek rela menukar waktu bermain bersama cucu tercinta dengan dinginnya angin malam lautan.

Esok subuh, kepulangan perahu tua itu akan selalu dinanti dengan penuh rindu. Semoga laut Parigi Moutong berbaik hati memberikan rezeki yang cukup bagi mereka. (Rafii)

Baca Juga: Kompetensi yang Tak Berhenti di Pintu Hotel

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Perahu Penjaga Dapur di Laut Lebo

Sabtu, 16 Mei 2026 | 18:05 WIB

44 Negara Tanpa Laut, Bagaimana Mereka Bertahan?

Selasa, 28 Januari 2025 | 20:35 WIB