Kalau kita masih bertanya "internet cepat buat apa", itu artinya kita rela tertinggal. Kita rela cuma jadi pasar, bukan pemain. Kita rela jadi konsumen, bukan pencipta teknologi.
Geografis kita memang menantang dengan 17.000 pulau. Tapi itu bukan alasan. Filipina dan Jepang juga kepulauan, tapi mereka bisa. Yang membedakan hanya satu: kemauan politik dan strategi investasi.
Kita punya bonus demografi. Anak-anak muda kita hebat-hebat. Tapi bakat itu tidak akan mekar kalau internetnya masih sekelas keong.
Jadi, masih mau tanya internet cepat buat apa?
Baca Juga: Platform E-GMP Kia Masuk Indonesia, Membangun Ekosistem Bukan Sekadar Jualan