• Selasa, 21 Juli 2026

Internet RI Tertinggal dari Thailand dan Vietnam, Apa yang Salah dengan 4G dan 5G Kita?

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Jumat, 23 Januari 2026 | 23:01 WIB
Bedah tuntas alasan internet Indonesia lambat, dari masalah infrastruktur backhaul hingga regulasi. Temukan perbandingan dengan negara tetangga dan dampak bagi ekonomi digital
Bedah tuntas alasan internet Indonesia lambat, dari masalah infrastruktur backhaul hingga regulasi. Temukan perbandingan dengan negara tetangga dan dampak bagi ekonomi digital

Sulawesitoday - Kita sering mengelus dada. Lagi asyik video call, tiba-tiba gambar membeku. Mau unduh dokumen kerja, bar progresnya seperti jalan di tempat. Paling menyebalkan, saat menonton YouTube, kualitasnya mendadak turun jadi 144p. Begitulah wajah internet kita.

Lalu, ada pejabat yang bertanya: "Internet cepat buat apa?". Pertanyaan itu viral. Mungkin itulah jawaban kenapa kita masih di sini-sini saja. Masih stuck.

Mari kita bicara data. Jangan pakai perasaan. Berdasarkan data Speed Test Global Index dan Open Signal, kecepatan unduh 4G kita rata-rata hanya 16 sampai 20 Mbps,. Kecil? Mari bandingkan. Singapura sudah 62 Mbps. Korea Selatan 67 Mbps.

Anda mungkin bilang, "Ya, itu kan negara maju." Oke, kita lihat tetangga yang levelnya sebanding. Thailand sudah 35 Mbps. Malaysia 32 Mbps. Bahkan Vietnam, yang pendapatan per kapitanya di bawah kita, kecepatan internetnya mencapai 28-30 Mbps. Filipina yang sama-sama negara kepulauan pun sudah 25 Mbps. Kita? Masih tertinggal jauh.

Kenapa bisa begitu?

Masalahnya bukan cuma satu. Kompleks. Pertama, soal infrastruktur backhaul. Bayangkan tower BTS itu seperti pintu tol. Kalau jalan tol yang menghubungkannya kecil atau rusak, pasti macet. Di Indonesia, banyak BTS yang masih pakai microwave atau kabel tembaga, bukan fiber optik. Fiberisasi kita baru 12-15 persen. Thailand? Sudah 40 persen. Teknologinya canggih, tapi "jalan tolnya" masih jadul.

Kedua, soal spektrum frekuensi. Ibaratnya, kita punya mobil balap tapi dipaksa lewat gang sempit. Pemerintah baru mengalokasikan spektrum 5G di 2,3 GHz dengan lebar hanya 100 MHz per operator. Korea Selatan memberikan 280 MHz. Jelas beda kelas.

Ketiga, soal bisnis dan investasi. Operator kita itu pusing. Mereka harus bayar lisensi 5G triliunan rupiah. Telkomsel bayar Rp5 triliun, XL dan Indosat juga triliunan. Padahal, pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) di Indonesia rendah sekali, cuma Rp45 ribu sampai Rp50 ribu per bulan. Di Singapura, ARPU-nya bisa Rp400 ribu. Operator harus putar otak supaya balik modal, sementara insentif dari pemerintah minim sekali.

Belum lagi soal birokrasi. Mau bangun satu tower saja, izinnya bisa puluhan. Ada izin lingkungan, lokasi, sampai IMB. Prosesnya bisa 6 bulan sampai setahun. Di Vietnam? Pakai one stop service, 2-3 bulan selesai.

Bedah tuntas alasan internet Indonesia lambat, dari masalah infrastruktur backhaul hingga regulasi. Temukan perbandingan dengan negara tetangga dan dampak bagi ekonomi digital

Lantas, internet cepat buat apa?

Ini bukan soal gaya hidup. Bukan sekadar buat pamer nonton Netflix. Internet sekarang itu infrastruktur dasar, sama pentingnya dengan listrik dan air bersih.

Data World Bank bilang: setiap kenaikan 10 persen penetrasi broadband, bisa menambah 1,4 persen pertumbuhan ekonomi (GDP) di negara berkembang. Ekonomi digital bisa menyumbang 10 persen GDP kita kalau infrastrukturnya beres.

Bayangkan UMKM kita. Mau jualan online tapi unggah foto saja lama. Mau live streaming tapi putus-putus. Itu langsung memukul kantong mereka. Belum lagi soal pendidikan dan kesehatan,. Di masa depan, ada AI, otomasi, dan industri 4.0 yang butuh fondasi internet super cepat.

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini