Kalau Apple itu jualan mobilnya (iPhone) dan Google jualan bensin atau petanya (Android), maka Huawei-lah yang membangun jalan tolnya. Mereka menguasai 30 persen pasar alat telekomunikasi dunia. Tower 4G dan 5G di banyak negara—termasuk Indonesia—menggunakan alat mereka.
Bahkan, Huawei memegang paten 5G terbanyak di dunia, lebih dari 20 persen. Artinya, kalaupun Amerika pakai Nokia atau Ericsson, mereka tetap harus bayar royalti ke Huawei. Inilah yang bikin Amerika takut: soal spionase dan kendali data.
Lalu, bagaimana bisa Huawei tetap hidup?
Jawabannya bukan cuma soal teknologi. Tapi soal mentalitas. Mereka punya apa yang disebut Wolf Culture atau Budaya Serigala.
Pendirinya, Ren Zhengfei, adalah mantan insinyur militer. Dia menanamkan budaya kerja yang agresif, berani mati, dan loyalitas tinggi. Mereka tidak sekadar menambah orang agar organisasi jadi gemuk, tapi membangun sistem yang kuat.
Puncaknya terjadi akhir tahun 2023. Dunia menyebutnya sebagai The Mate 60 Moment.
Waktu itu, Menteri Perdagangan AS, Gina Raimondo, sedang berkunjung ke Cina. Tiba-tiba, tanpa woro-woro, Huawei merilis HP Mate 60 Pro. Orang teknologi kaget setengah mati. Begitu HP itu dibongkar, isinya adalah chip 7 nanometer buatan Cina sendiri.
Padahal sanksi Amerika bertujuan menahan teknologi Cina agar tetap "di zaman batu". Ternyata, Huawei malah membuktikan mereka bisa mandiri. Dulu beli chip dari Qualcomm, sekarang bikin sendiri. Dulu pakai Android, sekarang punya Harmony OS.
Huawei menjadi satu-satunya perusahaan di dunia yang punya ekosistem end-to-end. Dari HP, software, koneksi, sampai tower infrastrukturnya.
Kini, Huawei mulai merambah ke mobil listrik dan AI. Strateginya pintar: Huawei Inside. Mereka tidak bikin pabrik mobil sendiri yang marginnya tipis, tapi menjual "otak" sistem mengemudi otomatis ke berbagai pabrikan. Konon, di jalanan Cina, sistem mereka lebih mulus dibanding Tesla.
Dunia kini sedang menuju technological decoupling—pemisahan teknologi. Akan ada dua standar internet, dua standar chip, dan dua ekosistem antara blok Barat dan Timur.
Bagaimana dengan kita di Indonesia?
Kita ada di tengah-tengah. Infrastruktur kita banyak pakai Huawei, tapi kiblat bisnis masih ke Barat.
Pesan pentingnya: jangan cuma jadi penonton. Kita harus mencontoh mentalitas underdog mereka. Berani investasi gila-gilaan di riset dan punya mentalitas wolf culture yang berani mati.
Sebab, di masa depan, kekuasaan bukan lagi soal siapa yang punya tentara paling banyak, tapi siapa yang memegang kedaulatan teknologi.