Sulawesitoday - Ulang tahun biasanya identik dengan kue dan pesta. Tapi di Parigi Moutong, perayaan hari jadi kabupaten yang ke-24 ini punya warna yang beda. Sedikit lebih serius. Sedikit lebih "berisik" oleh suara tawa anak-anak di kantor yang biasanya tegang: Kantor BPBD.
Selasa pagi itu (20/4), seragam merah putih sudah berbaris rapi di sana. Siswa-siswi SD Negeri 2 Parigi tidak sedang bolos. Mereka sedang melakukan misi penting. Menjemput ilmu kesiapsiagaan sebelum bencana benar-benar datang mengetuk pintu.
"Kita ingin mereka akrab dengan alat-alat ini. Supaya tidak takut, tapi waspada," ujar salah satu pejabat fungsional di sela-sela riuhnya anak-anak yang mengerumuni mobil operasional.
Gaya belajarnya bukan duduk manis mendengarkan ceramah yang bikin ngantuk. Mereka diajak berkeliling. Melihat mesin-mesin besar. Menyentuh transportasi operasional yang biasanya hanya terlihat melesat dengan sirine meraung saat ada musibah.
Puncaknya adalah saat mereka masuk ke ruang "suci" penanganan bencana: Gedung Pusdalops. Di sana, mata-mata mungil itu melotot melihat monitor dan sistem koordinasi yang rumit. Di gedung itulah nasib evakuasi ditentukan. Mereka diajarkan mitigasi sejak dini—sesuatu yang seringkali terlupakan oleh orang dewasa yang lebih suka sibuk setelah kejadian.
Kegiatan ini dijadwalkan marathon. Tiga hari berturut-turut hingga 22 April nanti. Sekolahnya ganti-ganti, tapi tujuannya satu: menanamkan naluri bertahan hidup menyambut Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKB) yang jatuh 26 April nanti.
Ada harapan besar di sana. Bahwa edukasi kebencanaan tidak boleh berhenti di SD Negeri 2 Parigi saja. Harusnya, semua sekolah punya keberanian untuk mengajak siswanya kenal dengan risiko. Memang, bencana itu urusan Tuhan, tapi bersiap adalah kewajiban manusia.
Bagi warga yang butuh bantuan atau sekadar lapor ada pohon tumbang, BPBD sudah siaga. Ada Call Center 117 atau WhatsApp di nomor 0811 4180 117. Bahkan sudah ada aplikasi SIBIMO di Play Store. Canggih.
Parigi Moutong sedang berulang tahun. Dan kado terbaik untuk masa depan adalah anak-anak yang tahu cara menyelamatkan diri saat Bumi sedang tidak baik-baik saja.
Warga Keluhkan Jalan Gelap, Anggaran Perawatan Lampu Hanya Rp200 Ribu per Titik Setahun
Artikel Terkait
Travel Umroh di Majene Ini Tawarkan Paket Sekali Bayar Ibadah Berkali-kali
Populasi Sapu-sapu Meledak di Sungai Jakarta, Ekosistem dan Turap Terancam
Wanita Medan Nekat Sandera Pegawai Toko HP Usai Rugi Rp10 Juta dari Promo Palsu
Kisah Inspiratif Endiah Puji Hastuti, Nenek Ahli Nuklir Lulusan Tertua di Wisuda ITB 2026
Warga Keluhkan Jalan Gelap, Anggaran Perawatan Lampu Hanya Rp200 Ribu per Titik Setahun